>

Tag Archives: TAPTENG

Truk Bermuatan Kakao Terbalik

METROSIANTAR.com, TAPTENG – Satu unit truk colt diesel bernomor Polisi BA 9333 HV terbalik di Jalan Sibolga–PSP Km 9, Kelurahan Sibuluan Indah, Kecamatan Pandan, Tapteng, tepatnya di depan SPBU Pandan, Jumat (24/1) sekira pukul 10.40 WIB.

Menurut pengakuan Eri Caniago (40), kernet mobil truk tersebut, mobil yang dikemudikan oleh rekannya Davis Tanjung, terbalik karena gardang belakang truk patah. Sehingga mobil bermuatan biji kakao yang hendak dibawa menuju Padang (Sumbar) tersebut terbalik ke kiri.

“Kami tidak menduga ini terjadi. Truk ini terbalik karena gardang belakang truk patah, tapi kami tidak tahu kenapa bisa patah. Kalau muatan kami masih terbilang normal karena hanya sekitar 5,5 ton,” ujar warga Kabupaten Tanah Datar, Padang ini.

Eri juga mengaku mereka sudah biasa membawa muatan seberat 5,5 ton dari Padang ke Nias dan sebaliknya. Namun mereka baru kali ini patah gardang. Sementara, untuk kerugian yang di alami akibat kejadian itu, Eri menafsirkan sekitar Rp2 juta lebih.

Sementara, petugas Pos Lantas Pandan Brigadir Anton Barus yang berada di lokasi kejadian, membenarkan hal tersebut. Menurut Anton, mobil tersebut terbalik murni karena mobil itu patah gardang.

“Truk ini terbalik memang murni karena gardang belakang patah. Beruntung tak ada korban jiwa,” ujar di lokasi kejadian.

Pantauan METRO, sopir dan kernet truk yang terbalik tersebut terlihat sibuk memperbaiki truknya. Petugas polisi juga tampak menimbun tumpahan oli gardang yang meleleh ke badan jalan. (wis/nasa)

6 Kios, 6 Rumah, 2 Toko Ludes Terbakar

Sejumlah warga berusaha mencari barang-barang paska kebakaran.(Foto: Gideon)

Sejumlah warga berusaha mencari barang-barang paska kebakaran.(Foto: Gideon)

TAPTENG – Pekan Sipodang, Kecamatan Sosorgadong, Tapteng, tiba-tiba membara, Senin dini hari (25/11) pukul 02.30 WIB.  Sebanyak 6 kios, 6 rumah (tiga di antarnya dijadikan kios sekaligus rumah) dan 2 toko ludes terbakar. Meski tidak ada korban jiwa, namun kerugian mencapai ratusan juta.

Informasi dihimpun METRO dari lapangan, pukul 02.30 WIB, sejumlah warga melihat asap mengepul dari salah satu toko sembako milik Uba Limbong. Namun saat kejadian, pemilik toko tidak berada di toko melainkan di rumahnya di Desa Siantar CA.

Beberapa menit kemudian, warga terkejut begitu melihat kobaran api mulai membara. Lalu api dengan cepat menjalar ke rumah warga dan kios. Melihat itu, warga yang sebelumnya terlelap tidur satu per satu terbangun.

Begitu tiba di lokasi, warga mulai panik dan berusaha mengangkat barang-barang rumah tangga dari dalam rumah. Namun, tak begitu banyak yang bisa diselamatkan karena api dengan cepat menyebar dari rumah ke kios. Apalagi rumah maupun kios tersebut kebanyakan terbuat dari kayu
“Kejadiannya begitu cepat. Warga sudah berupaya melakukan pemadaman, namun tidak berhasil karena peralatan serba terbatas. Situasi itu bikin warga panik. Di tengah paniknya, warga pun berusaha menghubungi pemadam kebakaran,” kata Kepala Desa Siantar CA, Julkifli Sigalingging kepada METRO, Senin (24/11).

Bahkan, tambah Julkifli, saat kejadian, kobaran api mencapai 15 meter. Kemudian, pukul 04.20 WIB, pemadam dari Tapteng tiba di lokasi. Lalu berusaha memadamkan api. Hingga pukul 05.25 WIB, api baru bisa dipadamkan.

Kejadian ini dibenarkan Camat Sosorgadong, Yusman Hutabarat. Ia mengatakan, api diduga berasal dari salah satu toko milik Uba Limbong. Meski begitu, pihaknya belum mengetahui penyebab terjadinya kebakaran. Hanya saja, saat itu, warga sudah melihat kepulan asap berasal dari toko tersebut. Kemudian dengan cepat api membesar dan melalap rumah, kios dan toko tersebut. Selain itu, satu sepedamotor turut terbakar.

“Kita sudah berupaya melakukan pemadaman, tapi sia-sia. Api makin besar. Apalagi rumah dan kios terbuat dari kayu,” ujarnya seraya mengatakan, pasca kejadian, pihaknya langsung memberi bantuan berupa 15 kg beras terhadap 10 kepala keluarga yang menjadi korban kebakaran.

Kesepuluh korban; Uba Limbong  (37), Tamin Tamba (55), Jhon Polber Sagala (35), Darsono Limbong (35), Jarius Saruksuk (60), Turgas Sihotang (55), Jusmar Sitanggang (30), Paslan Bondar (52), Maradat Sitanggang (44), Haulian Habeahan (55), dan Muslim Marbun (70). (gid)

1 Menyerahkan Diri, 2 Buron

TAPTENG – Tiga orang tahanan Polsek Pandan melarikan diri dari ruang tahanan, Kamis (14/11) dini hari. Mereka berhasil kabur setelah merusak jeruji besi dan menjebol asbes ruang tahanan. Aksi ini berlangsung diduga ketika petugas jaga sedang lengah.

Ketiga tahanan yang kabur; Agus Mardi alias Andri (17) warga Desa Badiri, Kecamatan Pandan, Tapteng, Danil Desli Ndraha (19) warga Kelurahan Sibuluan Indah, Kecamatan Pandan, dan Darlan Nasution (14) warga Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan.

Namun, Darlan Nasution didampingi kedua orangtuanya akhirnya menyerahkan diri, Kamis (14/11) sekira pukul 08.00 WIB. Sedangkan dua lainnya masih dilakukan pencarian alias buron.
Wakapolres Tapteng Kompol Zainal Abidin membenarkan kejadian itu. Dikatakan, hingga kini pihaknya dari jajaran Polres Tapteng masih terus melakukan pengejaran terhadap dua tersangka yang belum kembali.

“Hingga saat ini, dua tahanan lainnya belum ditemukan. Namun pengejaran masih tetap kita lakukan hingga mereka berhasil ditemukan,” ujar Zainal yang ditemui di Mapolsek Pandan, Kamis (14/11).

Diterangkan, kaburnya ketiga tahanan itu baru diketahui petugas sekira pukul 05.00 WIB, saat dilakukan pengecekan ruang tahanan. Kemudian dilakukan penyelidikan dan diketahui para tahanan kabur setelah mencongkel jerjak besi yang sejajar dengan asbes.

Perusakan itu dibenarkan Darlan Nasution, tahanan yang menyerahkan diri setelah sebelumnya berhasil kabur bersama dua rekannya. Kepada polisi, Darlan memaparkan, jeruji besi bagian atas ruang tahanan itu dicongkel dengan menggunakan obeng.

Kemudian mereka bertiga sama-sama kabur melewati celah atap. “Perbuatan ini sudah direncanakan dengan terlebih dahulu memantau situasi. Begitu petugas jaga lengah, mereka melakukan aksinya dan kabur melewati asbes yang dijebol dan keluar melalui celah atap,” beber Zainal.

Darlan sendiri setelah kabur dari ruang tahanan langsung menuju rumah orang tuanya di Lubuk Tukko. Namun oleh orangtua menyarankan agar Darlan menyerahkan diri.

“Menurut pengakuan kedua orang tua Darlan, setelah Darlan pulang ke rumah mereka, kedua orang tuanya kaget dan menginterogasi. Setelah diketahui Darlan kabur dari tahanan, kedua orang tuanya langsung menyarankan agar Darlan menyerahkan diri.

Karena Darlan merasa bersalah dan ketakutan, akhirnya Darlan meminta kedua orang tuanya mengantarkannya kembali ke Mapolsek Pandan untuk mengakui kesalahannya,” kata Zainal sambari mengatakan saat ini, Darlan yang menyaksikan kejadian itu masih diperiksa secara intensif. Sedangkan dua tersangka lainnya masih diburon. Dia berpesan, kepada seluruh masyarakat agar turut membantu.

“Diminta kepada siapa yang melihat kedua tersangka yang kabur agar segera memberitahukan kepada petugas kepolisian. Demikian juga keluarga kedua tersangka mohon kerjasamanya. Bagi warga yang mengetahui keberadaan para tersangka mohon diinformasi kepada kita,” imbaunya. Untuk diketahui, Darlan Nasution saat ini dititipkan di RTP Mapolres Tapteng. Sebelumnya, Darlan ditahan dalam kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur. Dia ditahan sejak Rabu (23/10). Sementara Danil Desli Ndraha ditahan dalam kasus yang sama dengan Darlan.

Dimana sebelumnya Darlan dan Danil ditangkap warga ketahuan melakukan percabulan dalam satu rumah. Oleh warga, Darlan dan Danil kemudian diserahkan ke Mapolsek Pandan, Rabu (23/10).
Sedangkan Agus Mardi alias Andre, ditahan dalam kasus tindak pidana pencurian di salah satu grosir di Tapteng. Agus kemudian diamankan dan ditahan di RTP Mapolsek Pandan. Agus ditahan sejak Senin (21/10). (Adm/des)

Dipergoki Mau Mencuri, Ayah 1 Anak Nyaris Dimassa

Camat Badiri Saeran dan Sekcam K Hutagalung mengamankan HS sebelum diserahkan ke Polsek.[Foto: Ambun Panjaitan]

TAPTENG – HS (35) ayah dari satu anak, nyaris dihajar warga, Kamis (14/11). Warga Jalan Hiu (arah gunung) Sibolga tersebut dicurigai dan tepergok mau mencuri saat masuk diam-diam ke rumah N Lubis, salah satu warga.

Peristiwa ini terjadi di Jalan H Kari Pohan, Desa Lopian, Kecamatan Badiri, Tapteng, Kamis (14/11) siang. Aksi HS dan seorang temannya yang berhasil kabur tersebut diketahui saat salah seorang warga yang merupakan tetangga N Lubis melihat gelagat mencurigakan dari keduanya. HS yang dikenal bukan warga setempat terlihat masuk ke dalam rumah N Lubis yang kebetulan saat itu pintu dan jendelanya terbuka dan tidak ada pemiliknya di dalam. HS masuk lewat jendela.

Sementara teman HS terlihat menunggui di tepi jalan, di atas sepedamotor jenis matic tanpa plat polisi. Warga yang curiga itu kemudian memberitahukan kejadian tersebut kepada warga yang berada di kantin tepat depan kantor camat setempat. Warga kemudian berdatangan ke lokasi yang dimaksud.

Tak pelak, kedatangan beberapa warga itu kemudian membuat HS panik dan mencoba kabur.
“Kami berusaha mengejarnya. Sementara temannya yang satu lagi kabur dengan sepedamotornya. Sementara si HS itu tidak sempat naik ke sepedamotor temannya itu.

Jadi si HS itu ditinggalkan temannya, tapi masih terus berusaha lari. Lalu kami kejar sambil kami teriaki maling. Capek juga mengejarnya. Tapi akhirnya dia tertangkap juga oleh warga lainnya yang ikut mengejar,” ujar P Simbolon dan S Lubis, warga setempat.

Usai ditangkap, HS pun nyaris menjadi bulan-bulanan warga. Untung saja Camat Badiri, Saeran dan beberapa stafnya langsung datang ke lokasi dan mengamankan HS. Tapi, setelah diinterogasi di kantor camat, HS kemudian diboyong petugas ke Polsek Pinangsori. Kepada petugas, HS mengakui niatnya mau mencuri di rumah N Lubis tersebut.

“Saya belum sempat mengambil barang-barang dari rumah itu. Karena saya dengar orang-orang berdatangan. Saya berusaha lari ke teman saya yang menunggu di jalan tepatnya depan rumah itu pakai kreta. Dia berteriak ayo cepat lari, tapi saya tidak sempat naik ke kretanya. Akhirnya saya tertangkap warga,” aku HS di kantor camat. (ambun)

Banyak Caleg Langgar Aturan KPU

TAPTENG – Sangat disayangkan, meski Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengeluarkan Peraturan KPU No 15 tahun 2013 pasal 17 tentang Aturan Pemasangan Spanduk dan Alat Peraga lainnya, namun sepertinya diperdulikan calon-calon legislatif (caleg) di kota Pematangsiantar.

Buktinya, banyak ditemukan alat-alat peraga kampanye yang terpasang di lokasi-lokasi yang dilarang oleh peraturan KPU. Selain soal ukuran, juga banyak alat peraga caleg yang tertancap di kayu-kayu di pinggir jalan umum, padahal umumnya caleg berpendidikan tinggi dan mengerti hukum.

Hingga Minggu (10/11), Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Siantar menemukan ratusan pelanggaran pemasangan alat peraga kampanye yang dilakukan caleg-caleg DPRD tingkat II, DPRD Sumut, DPR RI termasuk caleg DPD RI. Mereka seperti sengaja atau pura-pura tidak tahu dengan PKPU No 15 tahun 2013 khususnya pasal 17.

“Kami mencatat ada ratusan pelanggaran alat peraga kampanye para caleg. Pelangaran ditemukan di 8 kecamatan yang ada di Kota Pematangsiantar. Jumlah ini sudah sangat banyak dan sangat disayangkan, karena caleg adalah orang-orang yang berilmu tinggi bahkan ada yang mantan birokrat,” ujar Ketua Panwaslu Siantar Darwan Saragih, Minggu (10/11).

Pelanggaran yang lebih dominan dilakukan caleg kata Darwan yaitu, pemasangan spanduk yang tidak sesuai dengan ukuran yang ditentukan yakni maksimal 1,5 x 7 m hanya 1 unit pada 1 zona atau wilayah yang ditetapkan KPU Kabupaten/Kota bersama pemerintah daerah, pemasangan di kayu-kayu dan yang lainnya seperti yang tertuang di pasal 17 PKPU tersebut.

“Menurut PKPU No 15 tahun 2013 pasal 17, pemasangan spanduk yang dipasang oleh simpatisan para caleg, hanya boleh dipasang dengan ukuran 1,5 x 7 m hanya 1 unit pada 1 zona atau wilayah yang ditetapkan oleh KPU Kabupaten/Kota bersama pemerintah saerah. Namun, pantauan Panwaslu, para simpatisan caleg tidak mengindahkan pasal tersebut,” tandasnya.

Sejauh ini Panwaslu Kota Siantar telah merekomendasikan KPU untuk menyurati partai politik (parpol) yang mengusung caleg yang melanggar peraturan, agar menertibkan alat peraga kampanye calegnya. Tapi, bila belum ada tindakan dari KPU, maka Panwaslu akan berkordinasi dengan pemerintah daerah untuk melakukan penertiban secara paksa.

“Kita sudah merekomendasikan KPU untuk menyurati parpol agar menertibkan alat peraga kampanye caleg-calegnya yang melanggar aturan. Namun, bila belum ada tindakan dari KPU, Panwaslu akan berkordinasi dengan pemerintah daerah untuk melakukan penertipan secara paksa,” katanya. (mer)

Gelombang Pantai Barat Capai 2 Meter

TAPTENG – Awas, gelombang tinggi mulai 1,5 hingga 2 meter masih mengancam perairan di Pantai Barat. Curah hujan dan angin yang tidak menentu mengakibatkan ombak tinggi dan mengancam nyawa para nelayan.

Imbauan ini disampaikan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pinangsori M Rumahorbo. Diperkirakan, sejak Selasa (5/11) hingga Rabu (6/11), tinggi gelombang di pantai barat mencapai 1,5 hingga 2 meter.

“Cuaca hujan ringan dengan suhu 22-31 derajat celcius. Kelembaban 66 sampai 96 persen, kecepatan angin 10 km per jam dengan arah angin Timur Laut,” ujar M Rumahorbo kepada METRO, Selasa (5/11). Dengan kondisi seperti ini, pihaknya mengimbau agar nelayan yang beraktivitas di laut tetap waspada.

“Mengingat cuaca saat ini tak bersahabat, diimbau kepada para nelayan agar tetap waspada memantau perubahan cuaca,” imbaunya. Hal ini diakui para nelayan yang kerap mencari ikan di perairan pantai barat. Mereka mengaku gelombang tinggi yang tiba-tiba membuat mereka was-was.

“Belakangan ini cuaca tidak bisa kita prediksi, apalagi malam hari. Seperti baru-baru ini, meski tidak hujan, namun arus dan ombak membuat kami kewalahan mencari ikan. Kami pun terpaksa bersandar di pulau. Sekitar tiga jam kemudian kami kembali berlayar,” ujar Ramlan Pane (45), salah seorang nelayan panjaring salam yang ditemui METRO di Sibolga. Ramlan mengakui, berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, biasanya bulan September hingga Desember cuaca tidak bisa diprediksi.

“Biasanya mulai September hingga Desember, cuaca tidak bisa diprediksi. Itu yang membuat kita sering was-was. Meski begitu, kita tetap turun ke laut. Ya, namanya cari makan,” ucap ayah dua anak ini diamini rekannya M Hutagalung. (fred)

Jasad Burhanuddin Siregar Mengapung di Pulau Dua

TAPTENG – Jasad Burhanuddin Siregar alias Tunnang (27), akhirnya ditemukan mengapung di perairan Pulau Dua, antara Sikarakara dengan Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Mandailing Natal, Jumat (1/11) sore.

Jasad pemuda warga Balerong, Dusun 3, Desa Hajoran, Kecamatan Pandan, Tapteng itu ditemukan salah satu kapal ikan yang melaut di perairan itu. “Awalnya kami mendapat kabar dari kapal lain melalui radio. Mereka menginformasikan melihat sesosok mayat mengapung saat mereka menjaring ikan.

Sebelumnya memang kami sudah memberi tahu ke kapal-kapal penangkap ikan lainnya, bahwa kami kehilangan satu orang awak kapal, dan kami minta kalau ada petunjuk segera hubungi radio kapal kami,” ujar Parlaungan Siregar (24) alias Ucok, adik Tunnang, menceritakan kronologis penemuan jasad abangnya di rumah duka, Sabtu (2/11). Ucok mengaku sebelumnya kapal mereka sudah beberapa hari berputar-putar mencari di sekitar perairan itu.

Namun jasad Tunnang baru ditemukan lima hari setelah jatuhnya korban dari kapal pukat bagan di perairan Pulau Tolong, Sikarakara, Madina, pada Minggu (27/10) malam. Tunnang dan Ucok melaut dengan kapal yang sama.  Mendapat kabar itu, kapal Ucok lantas berbalik arah ke lokasi penemuan ke Pulau Dua. Awalnya mereka ragu itu jasad Tunnang. Namun kemudian dipastikan setelah Ucok mengenali pasti pakaian dalam warna kuning yang dikenakan Tunnang.

“Setelah kami tiba di lokasi, jasadnya sudah menggembung dan wajah sudah tidak dapat dikenali lagi. Tapi setelah kulihat celana dalamnya, aku yakin kalau itu adalah abang saya Tunnang. Karena saya mengenali celana dalam itu yang dipakainya terakhir sebelum dia hilang dari kapal,” tutur Ucok yang mengaku trauma melaut karena kejadian yang menimpa abangnya itu.

Kemungkinan besar, setelah jatuh Tunnang masih berusaha bertahan hidup dengan membuka baju dan calana jeans yang dikenakannya. Itulah sebabnya jasad anak keempat dari lima bersaudara pasangan Bosar Siregar (56) dan Maslina Batubara (50) itu hanya mengenakan celana dalam saat ditemukan.  Jasad Ucok kemudian dibawa dan tiba di Tangkahan Babi, Sibolga pada Sabtu (2/11) dini hari sekira pukul 00.01 WIB.

Sementara pihak keluarga sudah menunggu di tangkahan itu. Namun untuk keperluan penyidikan secara hukum, pihak Satpol Air Polres Sibolga membawa jasad korban ke RSU Dr FL Tobing Sibolga untuk divisum luar. Sebab, siapa tahu ada tindak kekerasan yang dialami korban sebelum jatuh ke laut.

Usai divisum, jasad korban kemudian diserahkan ke pihak keluarga sekira pukul 11.30 WIB hari itu juga. Karena kondisinya yang sudah membusuk, jasad Tunnang langsung dibawa ke Masjid Desa Hajoran untuk disholatkan, tidak lagi sempat dibawa ke rumah duka. Bahkan usai disholatkan, jasad Tunnang langsung dimakamkan di Pemakaman Umum Desa Hajoran.

Dari informasi yang dihimpun METRO, jatuhnya Tunnang ke laut berawal saat dia masih terlihat tidur-tiduran di atas sebuah viber ikan di lantai bawah kapal pada Minggu (27/10) tengah malam. Lalu sekira pukul 01.00 WIB dini hari atau Senin (28/10), Tunnang terlihat naik ke atas kapal dan tiduran dengan sebuah ayunan gantung. Namun sekira pukul 02.30 WIB kemudian, salah seorang awak kapal yang hendak buang air kecil melihat tidak ada lagi orang yang tiduran di ayunan itu. Tetapi hal itu belum membuat kecurigaan ada awak kapal yang jatuh atau hilang.

Kepastian Tunnang hilang baru diketahui saat jam pembagian jatah rokok kepada seluruh awak kapal atau sekira pukul 05.30 WIB. Di mana saat itu Tunnang sudah tidak hadir saat pembagian jatah rokok tersebut. Sementara jatah Tunnang dititipkan kepada Ucok. Namun setelah dicari-cari, Tunnang tidak kelihatan lagi. Sementara itu, menurut Kasatpol Air Polres Sibolga Iptu Rian, hingga Sabtu (2/11) sore, hasil visum jasad Tunnang belum keluar.

“Hasil visumnya belum keluar dari RSU Sibolga, kita tunggu saja. Makanya bagaimana soal proses hukumnya nanti, itu melihat hasil visum. Sejauh ini dari keterangan sejumlah saksi, masih menyebutkan bahwa korban tewas setelah jatuh dari atas kapal,” ujar Riang singkat. (wis/des)

Kepala BKD Tapteng: Penerimaan CPNS Tahun Ini Murni

Pelamar CPNS Tapteng antre saat pengambilan nomor ujian. Sementara itu, ujian CPNS akan dilaksanakan Minggu (3/11). (Foto: Aris)

TAPTENG- Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Tapteng Rahman Situmeang menegaskan, penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun ini bebas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Hal itu dikatakan Rahman di sela-sela pembagian kartu tanda ujian (KTU) atau nomor ujian CPNS di GOR Serbaguna Pandan, Rabu (30/10).
“Saya jamin, pelaksanaan penerimaan CPNS Tapteng tahun ini murni dan bersih dari segala praktik KKN. Panitia tidak akan berani macam-macam, karena penerimaan CPNS tahun ini akan dipantau ketat oleh KPK,” tegasnya.

Oleh sebab itu, dia mengimbau seluruh masyarakat khususnya peserta CPNS supaya tidak gampang terbujuk rayu oleh para calo yang mengaku bisa menjamin si pelamar bakal lulus CPNS.

“Tidak ada satu orang pun yang bisa menjamin seorang pelamar lulus pada penerimaan CPNS tahun ini, khususnya di Tapteng. Jadi, masyarakat atau peserta CPNS jangan mau terbujuk rayu oleh siapa pun yang mengaku bisa menjamin lulus. Kasihan nanti, karena akan merugikan diri sendiri,” imbaunya.

Dia tidak membantah, pada penerimaan CPNS tahun ini, sudah banyak pihak yang mengaku bisa meluluskan si pelamar menjadi CPNS dengan mencatut nama bupati, wakil bupati dan dirinya.

“Ada yang mengaku orang dekat dan suruhan Bupati Tapteng, ada yang mengaku orangnya Wakil Bupati, ada yang mengaku suruhan saya. Saya tegaskan, itu semua tidak benar. Bupati, Wakil Bupati maupun saya atau siapapun pejabat di Tapteng tidak akan mengintervensi pelaksanaan ujian penerimaan CPNS,” tegasnya.

Soal Ujian Disimpan di Polres
SELAIN menjamin penerimaan CPNS kali ini bebas dari KKN, Kepala BKD Tapteng Rahman Situmeang juga memaparkan pengawasan soal ujian. Mulai dari penjemputan hingga berada di Tapteng. Soal yang dibuat di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, akan dijemput dan dibawa ke Tapteng dengan pengawalan ketat dari Polres Tapteng.

“Soal ujian dan lembar jawaban dijemput besok, Jumat (1/11) dari USU dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Setibanya di sini, akan disimpan di Mapolres sebelum dibagikan. Setelah ujian berlangsung pun, seluruh lembar jawaban akan kita simpan di Mapolres Tapteng dengan penjagaan ketat, sebelum dibawa untuk dikoreksi di Jakarta. Dengan pengamanan yang begitu ketat, apa mungkin ada lagi permainan dalam seleksi CPNS tahun ini?” tukasnya.

Ditambahkan, hingga hari ketiga pengambilan nomor ujian, sebanyak 7.000 lebih dari 9.862 peserta CPNS Tapteng yang sebelumnya lulus seleksi administrasi, telah mengambil nomor ujian.

“Hingga hari ini, dari 9.862 pelamar CPNS yang dinyatakan sudah lulus seleksi administrasi, sudah 7.000 lebih pelamar yang sudah mengambil nomor ujian. Artinya, masih tersisa sekitar 2 ribuan lagi yang belum mengambil nomor ujian,” pungkasnya. (aris/des)

Pembentukan Karang Taruna Perlu Difasilitasi

Winsya Eko Syahputra

TAPTENG – Sebagai salah satu organisasi kepemudaan yang mendukung percepatan pembangunan di Kabupaten Tapteng, Karang Taruna mulai berbenah dengan membentuk setiap kepengurusan di kecamatan hingga desa/keluarahan di Tapteng. Untuk menyukseskan pembentukan kepengurusan itu, camat, kepala desa/lurah diharapkan berperan dalam memfasilitasinya.

Ketua Karang Taruna Tapteng Winsya Eko Syahputra mengatakan, percepatan pembentukan setiap kepengurusan Karang Taruna yang ada di kecamatan, desa/kelurahan itu juga untuk menyambut serta menyukseskan Hari Kesetiakawanan Nasional (HKSN) di Tapteng.

“Saya berharap kepada camat, kepala desa/lurah yang ada di Kabupaten Tapteng, untuk dapat memfasilitasi pembentukan Karang Taruna yang masih belum terbentuk di setiap kecamatan desa dan kelurahan di Tapteng, dalam rangka menyambut HKSN,“ sebut Winsya Eko Syahputra didampingi koordinator Sumber Daya Manusia (SDM) Beny Erico, di Pandan Senin (27/10).
Dikatakannya, pembentukan kepengurusan pada kecamatan desa/kelurahan itu juga telah sesuai dengan Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga (AD ART) Karang Taruna Tapteng.

Kalau kepengurusan sudah terbentuk lanjut Winsya, dia berharap agar dapat untuk segera dilaporkan ke Karang Taruna Tapteng, untuk dapat segera dilakukan pelantikan kepengurusan.
“Kalau pengurus telah terbentuk, saya harapkan untuk dapat menyampaikan langsung ke Karang Taruna Tapteng, agar setiap kepengurusan yang telah  dibentuk  dapat sesegera mungkin untuk direkomendasikan untuk dilantik,“ tandasnya. (aris/nasa)

Dishub Tapteng Warning Pemilik Betor

TAPTENG – Dinas Perhubungan dan Infokom Tapteng memberikan tenggat waktu hingga akhir tahun 2013 bagi pemilik becak bermotor (betor) untuk segera mengurus segala administrasi perizinannya. Termasuk mengganti status sepedamotor yang digunakan dari milik pribadi atau plat hitam menjadi sarana angkutan umum atau plat kuning. Jika tidak, maka pemilik betor yang membandel, mesti bersiap-siap jika nantinya petugas Dishub Tapteng menertibkannya.

Hal ini ditegaskan langsung oleh Kepala Dinas Perhubungan dan Infokom Tapteng Drs Binton Simorangkir MM saat diwawancarai METRO, Sabtu (26/10), guna menyikapi masih banyaknya becak bermotor di Tapteng yang menggunakan plat hitam.

“Sebenarnya kita sudah mengeluarkan kebijakan untuk tidak lagi mengeluarkan izin bagi becak bermotor baru, dikarenakan keberadaan becak bermotor di Tapteng sekarang ini sudah sangat membludak. Kita khawatir, jika tidak secepatnya dibatasi, jumlah betor semakin membludak. Sehingga mengganggu lalu-lintas seperti di kota-kota lainnya, apalagi kebanyakan tidak pula mau mengurus administrasi perizinannya,” ungkapnya.

Namun dikarenakan rasa toleransi antara pemerintah terhadap warganya, kata Binton, Dishub Tapteng masih memberikan tenggat waktu hingga akhir tahun 2013 kepada para pemilik betor untuk segera mengurus segala administrasi perizinannya.

“Yang kita utamakan adalah betor-betor yang sudah lama beroperasi, namun belum mengurus administrasi perizinannya. Termasuk mengurus perubahan status sepedamotor yang digunakan dari plat hitam menjadi plat kuning. Kalau untuk betor-betor baru, kita tidak akan memberikan toleransi sama sekali,” tegasnya.

Binton Simorangkir mengaku sudah  kesal melihat perilaku para pemilik betor di Tapteng yang selama ini terlihat acuh terhadap sosialisasi pengurusan izin yang sudah acap kali dilaksanakan oleh Dishub. Bahkan tak jarang pula para petugas Dishub Tapteng melakukan razia khusus betor yang masih menggunakan plat hitam.

“Bahkan kita sudah menahan tempat duduk betor yang berplat hitam, namun ternyata upaya yang kita lakukan tak juga diacuhkan oleh para pemilik betor. Padahal, selain supaya betor ini dapat beroperasi dengan lancar tanpa adanya hambatan dari petugas kepolisian, pengurusan izin ini juga merupakan upaya kita untuk mendata jumlah betor yang ada di Tapteng. Supaya kita dapat membatasi jumlahnya,” terangnya sembari menyampaikan bahwa hingga kini baru 300 unit betor dari sekitar seribuan betor yang sudah mengurus perizinannya di Tapteng.

Dirinya juga menjelaskan, bahwa sebenarnya pihak Dishub maupun Pemkab Tapteng tidak banyak menikmati apapun jika pemilik betor mengurus segala administrasi perizinannya. Sebab, kebanyakan pengurusan izin betor harus melalui Kantor Samsat setempat.

“Paling Tapteng hanya mendapat tambahan PAD, itupun jumlahnya sekitar Rp50 ribu per unit betor. Pengurusan perubahan plat hitam menjadi plat kuning itukan di Kantor Samsat, bukan di kantor Dishub. Jadi para pemilik betor jangan salah sangka,” tukasnya. Ditambahkannya, setelah berakhirnya tenggat waktu peringatan yang diberikan nantinya, Dishub Tapteng akan melaksanakan razia rutin terhadap betor-betor yang masih menggunakan plat hitam.

 “Tahun 2014 mendatang, setelah tenggat waktu peringatan yang kita berikan, maka kita akan rutin menggelar razia bagi betor-betor yang masih menggunakan plat hitam diseluruh Tapteng. Karena berbagai cara sudah kita lakukan untuk pembinaan, mulai sosialisasi hingga razia penertiban dengan sanksi lunak, ternyata mereka tetap membandel, terpaksa kedepan kita akan bertindak tegas. Jangan salahkan kami nantinya jika dalam penertiban, terpaksa kami menahan betor yang tertangkap. Bila tidak mau, silahkan urus izinnya dari sekarang,” pungkasnya. (fred/nasa)