Penulis Arsip: arrahmah.com

Milisi Syiah Houtsi merebut kantor-kantor pemerintahan dan markas militer di Shan’a

yo milisi

SHAN’A (Arrahmah.com) – Milisi pemberontak Syiah Houtsi pada hari Ahad (21/9/2014) merebut sejumlah kantor pemerintahan dan markas militer strategis di ibukota Shan’a. Hal itu terjadi setelah sejumlah ledakan keras dan pertempuran sengit antara milisi pemberontak Syiah Houtsi dan pasukan rezim boneka Yaman, Al-Jazeera melaporkan.

Sumber-sumber keamanan di ibukota Shan’a mengatakan milisi Syiah Houtsi memindahkan panser-panser yang berhasil mereka rebut, dari ibukota Shan’a ke propinsi Imran, Yaman utara.

Koresponden Al-Jazeera melaporkan milisi pemberontak Syiah Houtsi Yaman berhasil menguasai kantor pemerintahan, gedung Departemen Pertahanan Yaman, Markas Komando Umum Pasukan Nasional Yaman, markas Batalion IV dan Batalion VI, serta Bank Central Yaman di ibukota Shan’a. Milisi Syiah Houtsi juga menduduki gedung Radio Nasional tanpa pertempuran, setelah pasukan boneka rezim Yaman meninggalkan posisi mereka.

Sumber-sumber di ibukota Shan’a juga menegaskan bahwa milisi Syiah Houtsi telah menguasai gedung Departemen Informasi dan Departemen Kesehatan.

Juru bicara milisi pemberontak Syiah Houtsi, Muhammad Abdus Salam, melalui akunnya di media sosial juga mengatakan kelompoknya berhasil menduduki markas Divisi Lapis Baja I, yaitu markas Jendral Ali Muhsin Al-Ahmar, yang nampaknya berhasil meloloskan diri dari penangkapan milisi Syiah Houtsi.

Milisi Syiah Houtsi Yaman mendapatkan dukungan militer, ekonomi dan politik dari rezim Syiah Iran. Gerakan pemberontak dan teroris Syiah Yaman ini “dibiarkan” saja oleh rezim boneka Yaman, yang memfokuskan diri bekerja sama dengan salibis Amerika dalam memerangi mujahidin AQAP di Yaman selatan dan Yaman timur. Kini rezim boneka Yaman menuai hasilnya, dengan jatuhnya sebagian besar gedung pemerintahan dan militer di ibukota Yaman ke tangan milisi pemberontak Syiah Houtsi.

(muhib al majdi/arrahmah.com)

Tembak mati Muslim sedang sholat, Wakil Amir Mujahidin: Tindakan Densus setan biadab

Wakil Amir Majelis Mujahidin Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdurrahman (tengah) saat diwawancara awak media pada aksi pembubaran acara sesat Syiah di Balai Samudera Jakarta Utara (15/11/2013)

JAKARTA (Arrahmah.com) – Wakil Amir Majelis Mujahidin Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdurrahman menyatakan dengan tegas tindakan Densus 88 menembak mati orang yang sedang sholat adalah tindakan “Setan biadab”.

“Apapun alasnnya, menembak atau memukul atau menangkap orang yang sedang melakukan ibadah baik dia dari golongan kaum Muslim atau golongan kafir yang melakukan serangkaian ritual agamanya tidak boleh sama sekali dilakukan, melainkan menunggu sampai dia selesai (beribadah-red),” terang Ustadz Abu Jibriel kepada arrahmah.com Senin (22/9/2014) pagi.

Lebih jauh dia menerangkan bahwa Syariat Islam mengharamkan perbuatan seperti itu, demikian juga undang-undang negara RI yang melindungi hak rakyat untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.

“Jika Densusnya beragama Islam melakukan pembunuhan itu atau orang kafir maka akan dilaknat dan dikutuk Allah dunia akhirat dan akan dijerumuskan dalam neraka jahanam dan kekal di dalamnya, dan didunia harus dihukum karena melanggar undang-undang negara,” ulasnya.

Ustadz Abu Jibriel mengungkapkan sebuah firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang menyekutukan Allah dan mengganggu Rasu-Nya maka Allah akan melaknat mereka di dunia dan diakhirat. Allah sediakan adzab yang menghinakan bagi meteka. Orang-orang yang memperolok-olok kaum mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka lakukan, maka orang itu telah melakukan kebohongan dan dosa besar.” ( Tarjamah Tafsiriyah, QS Al Ahzab (33): 57-58).

Sebagai warga negara yang pernah dizhalimi polisi dengan rumahnya dilempari “bom” pada tahun 2005, Ustadz Abu Jibriel menilai polisi berlebihan dan berdusta. “Nurdin belum dibuktikan kesalahannya baru dituduh kenapa langsung ditembak mati?” tanyanya

Sedangkan, tambah dia, alasan polisi lewat mulut Karopenmas Mabes Polri Boy Rafly Amar yang mengatakan jika Nurdin tidak ditembak duluan nanti dia yang duluan menembak, atau dia sudah menyiapkan bom untuk dilemparkan kepada petugas, tidak ada bukti ke arah itu.

“Benarkah begitu dan siapa saksinya yang bukan dari pihak polisi? Kenapa dilakukan disaat sholat? Inilah penghinaan Densus 88 dan polisi terhadap Islam dan umat Islam,” tegasnya

“Pernahkah Densus bertindak brutal begini kepada selain umat Islam, meskipun kafir-kafir itu jelas-jelas melakukan tindak kriminal?” tambahnya bertanya.

Ustadz Abu Jibriel berpesan kepada semua aparat yang yang terlibat dengan rekayasa menghina Islam dan sebagian umat Islam, yang selalu dinilai negatif dan dituduh teroris “Saya sampaikan waspadalah dengan firman Allah Ta’ala di atas (Al Ahzab 57-58-red). Jangan sampai kalian terus membohongi umat Islam, Allah selalu melihat tindakan dan perbuatan yang kalian lakukan,” pungkasnya.

Telah diberitakan Densus 88 Polri menembak mati Nurdin saat dia sedang shalat Ashar di rumah orang tuanya di Desa O”o, Kecamatan Dompu, Sabtu (20/9/2014). Nurdin merupakan adik almarhum Ustadz Firdaus dari pondok pesantren Umar Bin Khothob. Terjangan timah panas Densus menembus kepala dan lehernya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.

Laporan kontributor Fayis Umar kepada redaksi Ahad (21/9/2014), istri Nurdin yang tidak bersedia disebut namanya menyesalkan tindakan biadab Densus 88 yang kembali menodai simbol-simbol Din Islam, yakni menembak suaminya yang sedang sholat Ashar.

“Kami sekeluarga sangat terpukul dan tidak terima dengan cara Densus, karena saat itu aku dan suamiku sedang sholat berjamaah di rumah mertuaku. Kami sholat berdua, dan beliau imamnya, namun beberapa saat kemudian Densus langsung masuk dengan menendang pintu rumah dan langsung menembak suamiku yang sedang sholat, kepala pecah dengan otak berserakan serta bagian leher tembus oleh peluru,” ungkap istri almarhum Nurdin.

“Saat itu juga, mayat suamiku langsung mereka masukan ke kantong mayat, dan langsung diangkut di atas mobil,” lanjutnya.

Dia menolak tuduhan dusta aparat tentang suaminya.

“Dan kami juga tidak menerima penemuan sebuah bom yang ditemukan oleh Densus, karena saya yakin, sejak kami datang dari Bima, kami tidak membawa yang namanya bom” katanya. (azm/arrahmah.com)

Di mana jenazah Nurdin korban kekejaman Densus 88?

Foto percikan darah di rumah orang tua Nurdin tepatnya pada pintu masuk kamar, persis berhadapan dengan tempat sholat  Almarhum Nurdin. (Foto: Fayis Umar)

MATARAM (Arrahmah.com) – Di manakah jenazah Nurdin korban kekejaman Densus 88 yang ditembak mati saat sholat Ashar? Antaranews.com mewartakan, saat ini jenazahnya ditempatkan di Rumah Sakit Bhayangkara Mataram, Nusa Tenggara Barat, Ahad (21/9/2014), untuk diautopsi.

Informasi lain menyebutkan Jenazah Nurdin ditempatkan di RS Bhayangkara Mataram sejak Sabtu (20/9/2014) malam, setelah aksi penembakan di Desa O’o, Kabupaten Dompu. Jenazahnya dibawa ke Mataram bersama dengan lima orang yang tertangkap yang dituduh teroris.

Densus 88 menembak mati Nurdin saat shalat Ashar. Dia ditembak mati saat penggerebekan yang dilakukan tim berlogo burung hantu di Dusun Kala Timur, Desa O’o, Kabupaten Dompu, Sabtu (21/9/2014).

Kebencian Densus 88 terhadap Islam dan kaum Muslimin tampak jelas pada peristiwa penembakan Nurdin ini. Dia dibunuh aparat Densus dengan cara keji pada sekira jam 15.20. Dia ditembak mati di bagian kepalanya dari jarak dekat dan peluru kaliber besar. Ini dapat dibuktikan dari tempat kejadian perkara penuh ceceran darah bahkan didapati serpihan tulang tengkorak kepala Nurdin. Dikuatkan dengan pernyataan isteri Nurdin yang menjadi saksi peristiwa tersebut. Dia menuturkan kepada kontributor Fayis Umar bahwa suaminya ditembak dalam keadaan shalat.

“Kami sholat berdua, dan beliau imamnya, namun beberapa saat kemudian Densus langsung masuk dengan menendang pintu rumah dan langsung menembak suamiku yang sedang sholat, kepala pecah dengan otak berserakan serta bagian leher tembus oleh peluru,” ungkap istri almarhum Nurdin.

Nurdin dikenal adalah seorang adik guru Ponpes Umar Bin Khatab (UBK) yakni Ustadz Firdaus.

Menurut seorang warga yang enggan disebut namanya, proses penggerebekan dan penembakan yang dilakukan Tim Densus 88/Antiteror berlangsung dengan cepat.

Setelah penggerebekan dan penembakan, Tim Densus 88/Antiteror langsung membawa jenazah NR menggunakan mobil, namun jenazah NR belum diketahui jenazahnya dibawa ke arah mana.

“Yang jelas, jenazahnya sudah dibawa. Kami tidak tahu dibawa kemana,” ujarnya.

Aksi penggerebekan dan penembakan Nurdin selesai pada Sabtu (20/9/2014) sekitar pukul 19.00 Wita. Selain membawa jenazah korban, pihak kepolisian juga mengamankan beberapa barang bukti.

Hingga saat ini belum dapat dipastikan keterkaitan Nurdin dengan tuduhan teroris, namun dia telah ditembak mati. Menurut informasi warga, dalam kesehariannya, Nurdin bekerja sebagai petani di Dompu.

Pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi mengenai penangkapan terduga teroris.

Kepala Bagian Humas AKBP Suryo Saputro hingga saat ini belum memberikan jawaban pasti mengenai penangkapan para terduga teroris yang terjadi di Kabupaten Bima dan Dompu, NTB.

“Densus, itu Densus,” katanya, singkat, dikutip dari Antara.

Juned sehat

Sementara itu laporan terkini kontributor dari Bima yang diterima redaksi ba’da Shubuh Senin (22/9/2014) menyebutkan bahwa Juned yang sebelumnya diberitakan turut ditangkap oleh aparat Densus Sabtu (20/9/2014), ternyata tidak. Dilaporkan bahwa saat ini Juned dalam keadaan sehat wal afiat di Bima. Dia tidak ditangkap dan bukan DPO.

Sebelumnya diberitakan Densus 88 Polri, kembali melakukan penggrebekan dan penangkapan serentak di Nusa Tenggara Barat tepatnya di wilayah Bima dan Dompu, Sabtu (20/9/ 2014)

Lima orang ditangkap hidup di Bima yakni Juned, Juwaid, Iriawan, Suhail, dan Salman. Mereka ditangkap di tempat berbeda. Sedangkan satu orang yakni Nurdin ditembak mati oleh Densus 88 di rumah orangtuanya di dusun Kala Timur Desa O’o, Dompu. Inna lillahi wa inna ilahi roji’un. (azm/arrahmah.com)

Milisi Syiah Houtsi merebut stasiun TV Yaman dan menghentikan siarannya

yaman houtsi a

SHAN’A (Arrahmah.com) – Koresponden Al-Jazeera melaporkan milisi Syiah Houtsi Yaman menduduki stasiun TV Yaman dan menghentikan siarannya pada Sabtu (20/9/2014). Pasukan rezim boneka Yaman telah ditarik mundur dari stasiun TV Yaman. Koresponden Al-Jazeera mengutip pernyataan pemimpin milisi Syiah Houtsi, “Kami telah menguasai gedung stasiun TV Yaman dan pasukan nasional yang menjaganya telah menyerah kepada kami.”

Sebelumnya koresponden Al-Jazeera melaporkan sejumlah orang tewas dan cedera oleh bombardir massif milisi Syiah Houtsi terhadap gedung stasiun TV Yaman. Beberapa bagian gedung stasiun TV Yaman terbakar dan mengalami kerusakan akibat serangan tersebut. Presiden boneka Yaman Abdu Rabbi Manshur Hadi mengatakan masuknya milisi Houtsu adalah “serangan terhadap ibukota Shan’a”. Ia menyerukan kepada rakyat untuk berdiri di barisannya dan mempertahankan ibukota Shan’a.

Para pengamat dan aktivis media menyerukan kepada Menteri Pertahanan Yaman untuk segera mengirim pasukan bantuan setelah milisi Syiah Houtsi mengepung gedung stasiun TV Yaman dan menyandera para karyawan dan petugas medis.

Kepala Direktorat Stasiun TV Pemerintah Yaman, Husain Basalim, mengatakan tiga gedung stasiun TV Pemerintah Yaman mendapat bombardir massif milisi Syiah Houtsi dari empat arah. Sedikitnya 300 pegawai stasiun TV Pemerintah Yaman disandera oleh milisi Syiah Houtsi di dalam gedung, di tengah berita tentang korban cedera dari kalangan pegawai.

Di sisi lain, sedikitnya satu orang tewas dan tiga lainnya cedera dalam bombardir terhadap Rumah Sakit Shan’a, yang menjadi ajang pertempuran sengit sejak Sabtu pagi antara milisi Syiah Houtsi dan pasukan nasional Yaman. Delapan anggota milisi Syiah dilaporkan tewas dalam pertempuran tersebut.

Sumber pada manajemen Rumah Sakit Azal yang terletak di jalan raya enam puluh, Shan’a, mengatakan sebuah tembakan mortir menghantam satu bagian dari bangunan rumah sakit, menewaskan seorang pasien dan mencederai tiga lainnya.

Sejak Sabtu pagi milisi Syiah Houtsi membombardir secara massif gedung stasiun TV pemerintah dan pangkalan militer VI. Ribuan penduduk ibukota Shan’a memilih untuk mengungsi ditengah raungan mobil-mobil ambulance di jalanan ibukota Shan’a.

Milisi Syiah Houtsi Yaman mendapatkan dukungan militer, ekonomi dan politik dari rezim Syiah Iran. Gerakan pemberontak dan teroris Syiah Yaman ini “dibiarkan” saja oleh rezim boneka Yaman, yang memfokuskan diri bekerja sama dengan salibis Amerika dalam memerangi mujahidin AQAP di Yaman selatan dan Yaman timur.

(muhib al majdi/arrahmah.com)

Mujahidin Sunni Suriah : Sisipkanlah kami dalam doa-doa Muslimin Indonesia

video caption mujahidin suriah

IDLIB (Arrahmah.com) – Video ini adalah kiriman sahabat Mujahideen Media Muslim Sunni Suriah pada Sabtu (20/9/2014) dari kota Maarat Al Nu’man di Idlib mengenai suara hati para Mujahidin di Suriah, bagi Muslimin Indonesia.

Mereka meminta kita untuk tidak melupakan perjuangan mereka, tidak membiarkan rakyat Suriah bersendirian dalam menghadapi kedzaliman Basyar Al-Assad serta gengster-gengsternya.

“Ingat mereka di dalam doa kalian. Doakan mereka!” Demikian diutarakan seorang wartawan Maaret Today. Subhanallah. (adibahasan/arrahmah.com)

Serangan bom mobil tewaskan anggota milisi Syiah di Lebanon timur

posko syiah

BEIRUT (Arrahmah.com) – Sumber-sumber keamanan Lebanon mengatakan bahwa sejumlah orang tewas dan cedera pada Sabtu (20/9/2014) malam oleh serangan bom mobil. Mobil penuh bom tersebut dikendarai dan diledakkan oleh seorang pelaku serangan “bom bunuh diri” di dekat posko keamanan milik milisi Syiah “Hizbullah” Lebanon di antara desa Kharibah dan desa Ham, wilayah pegunungan Lebanon, Lebanon timur.

Koresponden Al-Jazeera mengutip dari sumber medis di wilayah Sahl Al-Beka, Lebanon, sedikitnya tiga anggota milisi Syiah “Hizbullah” tewas oleh serangan bom mobil terhadap posko keamanan milisi Syiah tersebut. Identitas pelaku serangan belum diketahui dan sampai saat ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Kantor berita Turki Anadolia mengutip dari sumber keamanan Lebanon, mengatakan bahwa sebuah mobil penuh bom yang dikendarai seorang pelaku “serangan bunuh diri” meledak pada Sabtu malam di kawasan Beka, Lebanon timur. Serangan itu menargetkan posko keamanan milisi Syiah “Hizbullah” Lebanon.

Milisi Syiah “Hizbullah” Lebanon berperang di pihak rezim Nushairiyah Suriah sejak tiga tahun terakhir berlangsungnya revolusi rakyat Suriah. Milisi Syiah “Hizbullah” Lebanon telah mengirimkan lebih dari dua puluh ribu anggotanya untuk memerangi mujahidin Islam dan FSA. Milisi Syiah “Hizbullah” terlibat sejumlah pembantaian biadab terhadap rakyat sipil muslim Suriah, khususnya di propinsi Homs, Damaskus, pinggiran Damaskus, Tartus, dan Aleppo.

(muhib al majdi/arrahmah.com)

Wow, wartawan Mesir ini berani menyebut Obama seperti burung unta

obama 2

KAIRO (Arrahmah.com) – Mengutip laporan MEMO pada Jum’at (19/9/2014) bahwa, Salah Bedewy, seorang wartawan Mesir, telah mengirimkan pesan kepada Presiden AS Barack Obama tentang kerjasama dengan Mesir kudeta-pemimpin dan presiden, Abdul Fattah Al-Sisi, dalam perang Barat melawan ISIS.

Dalam sebuah surat yang ia diterbitkan di halaman Facebook-nya, Bedewy mengatakan kepada Obama bahwa: “Musuh sebenarnya ada di Mesir, dan pemimpinnya adalah Abdul Fattah Al-Sisi, tapi yang Anda lakukan seperti burung unta, menyembunyikan kepala di pasir dalam kebencian terhadap Islam.”

Ia memperingatkan Presiden AS bahwa jika kebijakan ini terus berlanjut, “Anda akan membayar harga yang mahal untuk itu, selama Anda tidak mengikuti jalan yang benar untuk memerangi ‘terorisme’ di kawasan, yang diwakili oleh tirani negara.”

Wartawan pemberani ini mengajukan pertanyaan retoris, “Berapa banyak orang Mesir telah dipotong-potong dan disembelih di tangan Al-Sisi dan gengnya, dengan tubuh mereka dibakar, keluarga mereka diperkosa dan dibiarkan di penjara?” Ia menambahkan: “Dan berapa banyak warga Irak dibantai seperti domba, diperkosa dan kehilangan martabat mereka di tangan tirani Anda sendiri.”

Bedawy mengingatkan Obama bahwa, “Kami milik agama Islam besar yang mengajarkan kepada kita bahwa darah manusia adalah ilegal untuuk ditumpahkan,” sebelum peringatan ini, “Sayangnya, Anda mungkin bangun setelah itu sudah terlambat.” (adibahasan/arrahmah.com)

“Perang terhadap teror” oleh pemerintah komunis Cina akan menjadi serangan habis-habisan terhadap Islam di Xinjiang

81muslim_uighur

URUMQI (Arrahmah.com) – Bulan Ramadhan seharusnya menjadi waktu untuk berpuasa, mengerjakan banyak amalan dan sholat sunnah bagi Muslim yang tinggal di barat Cina. Namun di sana, bagi banyak warga kota dan desa di Xinjiang Selatan,
menjadi waktu yang penuh ketakutan, penindasan dan kekerasan.

Kampanye pemerintah komunis Cina melawan “separatisme” dan “terorisme” di wilayah barat yang menjadi rumah bagi komunitas Muslim Cina, telah menjadi perang habis-habisan terhadap Islam, ujar warga seperti dilansir Washington Post pada Jum’at
(19/9/2014).

Sepanjang Ramadhan, polisi mengitensifkan kampanye dari rumah ke rumah untuk melakukan penggeledahan, mencari buku-buku atau pakaian yang mereka anggap mengkhianati keyakinan beragama (menurut versi pemerintah komunis Cina-red). Wanita bercadar menjadi target, mereka ditangkap dan ditahan, banyak pemuda Muslim juga ditangkap dengan alasan yang tidak jelas. Mahasiswa dan pegawai negeri dipaksa untuk makan bukannya berpuasa dan bekerja atau menghadiri kelas bukannya menghadiri sholat Jum’at di hari Jum’at.

Penindasan agama telah menumbuhkan permusuhan dan proses mematikan. Laporan telah muncul bahwa polisi menembaki kerumunan massa yang marah di kota Elishku dan Alaqagha, sejak saat itu pihak otoritas Cina telah memberlakukan pemadaman lengkap mengenai pelaporan (berita) dari kedua lokasi itu, bahkan lebih intens dari yang sudah diberlakukan di tempat lain di Xinjiang selatan.

Tim dari Washington Post pernah mencoba mendatangi lokasi, mereka harus melalui beberapa pos pemeriksaan di sekitar Elishku saat truk militer bergemuruh melintas dan kemudian ditahan beberapa jam oleh pejabat polisi dan Partai Komunis, mereka tidak bisa membuat laporan mengenai apa yang terjadi di desa-desa dan di distrik sekitar Sache. Hari berikutnya, tim kembali ditahan di Alaqagha di Kuqa dan akhirnya dideportasi dari wilayah dari bandara terdekat.

Di seberang Shache, internet telah dipotong dan layanan pesan teks dinonaktifkan, sedangkan orang asing dilarang masuk. Namun dalam percakapan selintas secara pribadi di telepon dengan beberapa orang di wilayah itu, mereka cukup berani
menggambarkan pelecehan konstan di Xinjiang.

“Polisi di mana-mana,” ujar seorang Muslim Uighur. Yang lainnya mengatakan bahwa ia hidup seperti di penjara. Yang lainnya lagi mengatakan identitasnya telah diperiksa berkali-kali dan strip magnetik di kartu identitasnya kini tidak berfungsi lagi, ujar laporan Washington Post.

Pada 18 Juli, ratusan orang berkumpul di luar sebuah gedung pemerintah di kota Alaqagha, mereka marah setelah penangkapan belasan anak perempuan yang menolak untuk melepas jilbab mereka, menurut sebuah laporan oleh Radio Free Asia (RFA).

Para pengunjuk rasa melemparkan batu, botol dan batu bata ke arah gedung. Polisi melepaskan tembakan, menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai beberapa lainnya.

Kemudian pada 28 Juli, hari terakhir Ramadhan, aksi protes di Elishku menemui respon lebih keras, masih menurut laporan RFA. Ratusan warga Uighur menyerang kantor polisi, mereka marah karena penindasan terhadap Muslim yang dilakukan oleh polisi Cina.

Kantor berita resmi Cina, Xinhua, mengklaim bahwa polisi menewaskan 50 “teroris” Uighur dalam insiden itu, meskipun laporan lain menunjukkan jumlah korban tewas bisa saja jauh lebih tinggi.

Menurut versi pemerintah komunis Cina, massa yang marah kemudian mengamuk di kota-kota dan desa-desa, menewaskan 37 warga sipil. Namun informasi ini tidak bisa diverifikasi secara independen karena adanya pembatasan ketat terhadap media
internasional. Sejak saat itu wilayah tersebut dikunci dengan penyebaran banyak polisi dan tim SWAT serta drone. Terjadi penangkapan besar-besaran di sana.

Xinjiang adalah wilayah gurun dan pegunungan yang diapit oleh negeri-negeri Muslim Asia Tengah. Pemerintah komunis Cina mengklaim ide-ide keagamaan yang sering disebarkan melalui internet, telah merusak rakyat Xinjiang.

Presiden Cina, Xi Jinping telah bersumpah akan menangkap teroris dengan jaring yang menyebar dari bumi ke langit dan mengejar mereka seperti “tikus yang bergegas lari di jalan saat semua orang berteriak, ‘hantam mereka’.”

Namun sepertinya jaring tersebut menangkap banyak orang tak bersalah, keluh warga.

“Anda seharusnya menangkap orang-orang jahat,” ujar seorang profesional Uighur di Urumqi. “Bukan hanya orang yang terlihat mencurigakan,” tambahnya.

Sekitar 200.000 kader Partai Komunis telah dikirim ke pedesaan, seolah-olah untuk mendengarkan kekhawatiran masyarakat. Namun para pejabat tersebut yang sering berlindung di balik kamp yang dipenuhi alarm dan kawat berduri, lebih melakukan
pengawasan dan selalu mengganggu kehidupan warga Uigur, ujar penduduk setempat.

Di Sache, dokumen resmi menunjukkan bahwa otoritas menghabiskan lebih dari 2 juta USD untuk membangun jaringan informan dan kamera pengintai. Penggeledahan dari rumah ke rumah, menangkap siapa saja yang terlihat mencurigakan termasuk para
Muslimah yang menutup wajah mereka dengan cadar atau laki-laki yang memiliki jenggot panjang.

Di kota Kashgar, pemerintah menegakkan apa yang disebut dengan “Project Beauty”, dalam hal ini, wajah menjadi fokusnya. Sebuah billboard besar yang diletakkan di dekat Masjid utama membawa gambar seorang wanita yang mengenakan “kerudung” yang
menurut otoritas komunis Cina bisa diterima, kerudung tersebut tidak menutupi wajah atau bahkan leher wanita tersebut.

Siapa pun yang tertangkap melanggar aturan, akan menghadapi prospek menakutkan, pemeriksaan secara rutin dan teratur, “kuliah pendidikan” dan diadakannya pesta-pesta oleh kader komunis yang ditugaskan sebagai “teman” untuk mencegah kemunduran. Di kota Karamay, wanita mengenakan kerudung dan laki-laki berjenggot panjang telah dilarang menaiki bus umum.

Terorisme, dalam arti serangan terhadap sipil, telah menjadi fenomena baru di Xinjiang. Namun kerusuhan di sini memiliki sejarah lebih lama, dengan banyak orang Uighur menjadi objek penindasan sejak Cina diambil alih oleh Partai Komunis pada tahun 1949 dan kemudian mereka membanjiri wilayah tersebut dengan imigran dari mayoritas masyarakat Han Cina.

Apa yang telah berubah adalah meningkatnya Islam di sana dan Muslim Uighur bertekad untuk melawan kekuasaan Cina.

Sampai satu atau dua dekade lalu, Muslim Uighur hanya menjalani sebagian kecil dari kewajiban agama mereka. Tapi dalam dua dekade terakhir, keimanan mereka meningkat dan seluruh bentuk kewajiban agama memperoleh pijakan.

Sementara tempat ibadah banyak yang ditutup dan diawasi dengan ketat, jaringan masjid bawah tanah bermunculan. Kebangkitan Islam mulai terlihat di sana.

Namun Joanne Smith Finley dari Universitas Newcastle Inggris mengatakan agama telah menjadi bentuk simbolis perlawanan terhadap pemerintah Cina di daerah di mana perlawanan lain tidak mungkin.

“Orang-orang mulai kehilangan kepercayaan pada mimpi kemerdekaan,” klaimnya. “Dan mulai mencari Islam sebagai gantinya.”

Upaya keras pemerintah komunis Cina untuk menghilangkan “radikalisme” Islam hanya mendorong lebih banyak orang ke tangan kaum “fundamentalis”, menurut para ahli.

“Jika pemerintah terus membesar-besarkan ‘ekstrimisme’ dengan cara ini, dan mengambil langkah-langkah yang tidak pantas untuk memperbaikinya, itu hanya akan memaksa orang ke arah ‘ekstrimisme’,” ujar Ilham Tohti. (haninmazaya/arrahmah.com)

IS-ISIS dan terorisme menyandra Poso?

santoso-poso_1

Oleh: Harits Abu Ulya
Pemerhati Kontra Terorisme & Dir. CIIA

(Arrahmah.com) – Di sebuah diskusi terbatas (FGD, 10 Sept 14), BNPT mengakui bahwa isu ISIS pertama kali mereka yang hembuskan. Tentu ada latarbelakang dan tujuan BNPT kenapa melakukan strategi tersebut. Akhirnya isu ISIS bergulir layaknya bola salju, menarik perhatian publik secara luas berlanjut larangan ISIS di Indonesia. Banyak element pemerintah dan non pemerintah dilibatkan untuk implementasi larangan tersebut. Mulai dari masyarakat dan tokohnya, institusi Depag, Kemenkominfo, Mabes Polri plus Densus-88, BNPT, TNI, Kejaksaan Agung, serta aparatur intelijen.

Sudah banyak orang ditangkap dengan alasan anggota ISIS, bahkan Presiden SBY dalam rapat kabinet terbatas secara spesifik kembali menyikapi isu ISIS paska tertangkapnya 4 WNA di wilayah Parigi-Sulteng. Pemetaan kantong-kantong potensial pendukung ISIS dilakukan oleh pihak BNPT, Densus88 dan aparatur intelijen lainya. Melalui ruang pusat kontrol imigrasi monitoring pergerakan WNI yang diduga Suriah menjadi destinasi (tujuan) juga dilakukan. Dengan cover identity, operasi intelijen juga dilakukan di dalam negeri maupun luar negeri untuk mempertajam pengindraan mereka. ISIS diruang publik Indonesia seolah menjadi “cammon enemy”, begitu juga konstalasi politik global Amerika bersama 40 negara lebih berijma’ untuk memerangi ISIS.

Paska larangan ISIS di Indonesia, BNPT yang paling dominan berkepentingan melihat larangan tersebut butuh legitimasi payung hukum yang kuat. Publik kemudian mengerti kenapa BNPT mengusulkan perlunya UU BNPT agar eksistensi dan perannya makin tajam untuk proyek kontra terorisme. Begitu pula wacana yang terus digalang tentang urgensitas amandemen UU Terorisme (UU Nomer 15 Tahun 2003), agar bisa diperluas spektrum jangkauannya. Strategi yang paling tajam untuk mereduksi eksistensi ISIS di Indonesia yaitu dengan menggunakan piranti Undang-Undang Tindak Pidana Terorisme. Karena itu diberbagai kesempatan rapat dan diskusi para pakar terkait isu ISIS rekomendasinya adalah terorisasi ISIS atau kriminalisasi ISIS bahkan kalau perlu status kewarganegaraannya di cabut. Penalaran dan logika hukum terus dikonstruksi, agar bisa memberikan legitimasi hal tersebut. Asumsinya, regulasi yang jelas membuat law enforcement oleh pihak Polri (Densus-88) atau BNPT dengan Satgasnya (BKO) tidak akan menghadapi kritik dan kendala dilapangan.

Isu dan opini tentang “Indonesia darurat ISIS” di gulirkan sedemikian rupa secara sistemik. Yang selama ini Poso dalam isu terorisme ditempatkan sebagai episentrum akhirnya di sebut juga oleh pihak Polri dan BNPT sebagai wilayah yang banyak pengikut ISIS. Para “teroris” jaringan Santoso cs (MIT-Mujahidin Indonesia Timur) terekspos sudah berbaiat kepada Islamic State (IS)-ISIS di Iraq-Suriah. Dengan pengolahan dan komunikasi yang “ciamik” dari pihak Polri dan BNPT, semakin kokoh image Poso menjadi basis ISIS di Indonesia paska tertangkapnya 4 WNA di Parigi Sulteng (6 Sept 2014). Karena isu ke publik melalui Polri bahwa 4 WNA diduga terkait jaringan Santoso, dan ada hubungannya dengan ISIS. Ditambah komentar beberapa pengamat teroris (baca; agent influence) bahwa warga Poso paling banyak berbaiat kepada IS-ISIS, maka makin establis image “Poso sarang teroris dan ISIS”. Padahal bagi sebagian tokoh masyarakat Poso komentar diatas sangat berlebihan dan tendensius, ini terungkap saat diskusi dihelat oleh FAAI (Forum Alumsi Afghanistan Indonesia) di Hotel Sofyan Cikini-Jakarta bulan Agustus untuk mensikapi isu ISIS.

Saya yakin semua masyarakat Poso merindukan ketenangan, kedamaian bahkan kesejahteraan dalam kehidupan mereka. Bahkan di hari Senen (22 Sept 2014) dibuatkan perhelatan diskusi terbuka, menghadirkan sekitar 70 orang lebih para tokoh dan representasi masyarakat Poso dari berbagai element. Mengangkat sebuah tajuk “Saatnya Orang Poso Bicara.Menyelesaikan Poso Secara Komprehensif”, dari pukul 09.30-16.00 Wita di Hotel Kartika Poso. Namun perhelatan ini seolah ditantang secara langsung atas peristiwa aktual penangkapan 4 WNA dan 3 WNI yang diduga terkait jaringan Santoso (MIT), bagaimana resolusi keamanan bagi masyarakat Poso bisa dibuat sevisibel mungkin?. Bahkan yang lebih heboh lagi, agenda yang di inisiasi oleh Komnas HAM Pusat ini seolah diberi PR (pekerjaan rumah) tambahan terkait peristiwa pembunuhan seorang warga Poso bernama Fadli (18 Sept 2014) yang akhirnya diklaim dilakukan oleh MIT (Mujahidin Indonesia Timur) melalui rilisnya ke beberapa media online (20 Sept 2014).

Poso dalam baluran darah dan misteri instabilitas keamanan tidak hanya saat ini saja, tapi sudah menahun sejak konflik tahun 2000-an. Dalam konteks sekarang, Poso menyimpan potensi ketidak-amanan dan ketidak-nyamanan bagi warganya tidak bisa dipungkiri. Meski kondisi ini bertolak belakang dengan alam bawah sadar komunal masyarakat Poso yang mengimpikan kadamaian. Bagi BNPT dan Polri (Densus-88) kelompok sipil bersenjata yang dilabeli teroris oleh mereka sebagai faktor utama isntablitas keamanan di Poso. Bahkan narasi yang lebih drasmatis lagi, Poso menjadi kawah condrodimuko para “teroris” yang akan menebar “hantu” ketakutan diberbagai pelosok negeri Indonesia.Terlepas disadari atau tidak, bahwa treatment selama ini yang mereka desain juga berkontribusi melahirkan banyak blunder di Poso. Kekerasan demi kekerasan menggeliat tanpa kendali, penyelesaian holistik komprehensif jauh panggang dari api. Aroma proyek kepentingan opurtunis dengan menjadikan Poso sebagai panggung perhelatan juga “anyir” tercium. Egoisme Polri dan BNPT juga terkesan tampak dalam penanganan Poso. Lengkap lagi keterpurukan Poso adalah berada dititik nadzir rendahnya kepedulian tokoh-tokoh Ormas Islam Indonesia.

Sekarang Poso disandra dengan opini “ISIS dan terorisme“, di sisi lain kelompok sipil bersenjata (Santoso cs) tersandra dengan label teroris dan buronan kelas kakap. Ibarat posisi, di sebuah ujung jalan buntu bagi Santoso cs tidak ada yang bisa dilakukan kecuali melawan atau mati. Variabel yang mejadi “ruh”perlawanan bagi mereka makin berderet; dari dendam, pengkhianatan, qishas, rasa ketidak adilan dari resolusi konflik masa lalu Poso, sampai ideologi baru perlawanan mereka dapatkan paska deklarasi IS (Islamic State) oleh ISIS.

Dari perspektif inilah, kasus terbaru pembunuhan terhadap Fadli seorang petani Kakao diklaim dilakukan oleh MIT (Mujahidin Indonesia Timur) bisa di eja.

Mengeja kasus terbaru di Poso

Fadli tewas mengenaskan di malam Jumat (18 Setp 2014), berdasarkan kesaksian istrinya dilakukan 5 orang yang ia tidak mengenalnya. Kemudian jarak sehari ada klaim dari MIT melalui rilis ke media (http://m.arrahmah.com/news/2014/09/19/mit-bertanggungjawab-atas-penggorokan-warga-poso.html, 20 Sept 2014) bahwa benar mereka yang melakukan sebagai bentuk hukuman kepada Fadli. Pertanyaan mengelitik, benarkah rilis tersebut original dari kelompok MIT? Mengingat banyak orang yang juga bisa membuat rilis semacam itu.

Pengirim rilis dengan alamat email “abu nuh” abunuh423@gmail.com, dari riset yang dilakukan diduga kuat pengirim rilis tersebut bukan di atau dari Poso, Sulteng tapi justru berada di Jakarta. Dari forensik IT ketahuan pemilik akun menggunakan IBM data dan servernya di sebuah gedung tinggi di bilangan Kuningan-Jakarta. Bisa jadi pelaku adalah pendukung MIT, ring inti, anggota, atau level bawahnya lagi adalah simpatisan. Tapi bisa dipastikan pengirim rilis ada komunikasi dengan orang dilapangan (Poso) karena konten dari rilis mengisaratkan dia tau dinamika dan alasan utama kenapa Fadli di bunuh.Terlebih lagi “abu nuh” sudah beberapa kali kirim rilis ke media dengan alamat email yang sama. Dan foto korban (Fadli) diunggah melalui FB (Facebook) dengan nama akun “abu qiya al-qutb”. Apakah forensik cyber crime Densus-88 bisa menjejak ini? hubungan antara peristiwa dilapangan dengan bagian propaganda seperti kasus diatas sering menyisakan kabut dan kebenaran dibaliknya tidak pernah terungkap ke publik.

Benarkah nyawa Fadli sebagai ganti (qishas) dari Handzalah alias Hendro dan Fani yang mati ditangan Densus-88? Bisa jadi demikian. Sekelumit fakta penting publik perlu tahu, dari riset kita dapatkan gambaran sebenarnya; Fadli, Handzalah(Hendro) dan Fani plus Evan (Ipar dari Fadli) adalah satu grup. Pada awalnya mereka dalam lingkaran MIT, dan Fani seorang tukang kayu yang tinggalnya di lorong jati tewas bersama Hendro (Handzalah) saat kontak penggrebekan yang dilakukan oleh Densus 88 di Taunca Poso beberapa bulan lalu. Peran fani adalah kurir, berbeda dengan Handzalah yang berperan ganda sebagai kurir dan menangangi urusan propaganda (IT). Berbeda nasibnya dengan Fadli, Evan sampai kini lenyap tanpa jejak disinyalir ada yang mengamankan. Tapi tidak untuk Fadli, ia sempat ditangkap oleh Densus-88 kemudian dilepas disinyalir dijadikan sebagai “panah” pihak Densus-88 dengan sejumlah kompensasi (uang). Dari hasil penggalangan terhadap Fadli inilah pihak Densus-88 bisa menjejak posisi Hendro dan Fani saat di Taucan Poso. Inilah alasan utama kenapa Fadli jadi target kelompok MIT dibawah komandan Santoso dan supervisernya Daeng Koro (disertir Kostrad). Fadli dicap sebagai pengkhianat dan bekerja untuk aparat Densus-88.

Dari rilis MIT terindikasi ada benarnya bahwa mereka yang melakukan, ada beberapa indikasi dan barang bukti yang menjadi jejak langkah mereka.

Dari investigasi dan sumber CIIA didapatkan jejak, paska 5 OTK (orang tidak dikenal) mengkeksekusi Fadli mereka lari mengambil rute ke arah Desa Taunca menuju ke arah Sumber air Panas di Patanggolemba. Kemudian bergerak melintasi Gereja di Tongko Situru Membangun, dilanjutkan menyusuri sungai Masani tembus ke Tamanjeka. Di duga kuat pemimpinnya adalah Sabar Subagio alias Daeng Koro (disertir Kostrad). Saat aparat TNI melakukan penyisiran (Jumat, 19 Sept 2014) dikawasan Dusun Ratalemba Desa Masani, Poso Pesisir di kawasan kaki Gunung Biru dijumpai pondokan salah seorang warga dikebun menjadi salah satu tempat suplai logistik kelompok MIT yang lari kearah di Gunung Biru paska kontak senjata dengan aparat TNI. Ada beberapa barang bukti yang didapatkan di TKP; beberapa bom rakitan, Munisi Rangsel, 1 SIM atas nama “MP” asal Purbalingga Jateng. Dan juga didapatkan 1 KTP atas nama “MP” juga, 1 KTP atas nama “BS”, dan 1 buah kartu ATM BRI.

Selain itu juga masih didapatkan dari TKP (Pondokan) yang digrebek aparat TNI; 1 buah magazen pistol berisi 3 butir munisi kal. 9mm, 1 buah cas HP, 1 buah parang yang diduga dipakai menggorok Fadli, ratusan munisi Kal.5,56mm, 1 buah magazen M16, 7 buah sleeping bag, 1 buah rompi bom, 1 buah rompi magazen, 1 buah senter kepala, 1 buah teropong, 3 kaleng obat multivitamin, 1 HP merk Nokia, 1 buah senter kecil, 1 buah cas HP satelit,1 buah kompos gas beserta tabung LPG, 2 buah pemicu bom, 6 pasang sepatu kebun dan 6 buah tempat tidur ikat dan pakaian. Dan semua BB (barang bukti) diserahkan ke pihak Polres.

Lantas bagaimana dengan 4 WNA yang di tangkap di Parigi- Sulteng, apakah benar mereka terkait ISIS yang mau gabung dengan MIT? Sejauh ini sumber resmi Polri mengungkap ada kendala bahasa untuk mengorek keterangan dari 4 WNA yang dikurung di Mako Brimob Kelapa Dua. Dari kajian CIIA didapatkan informasi, data pelintasan imigrasi mereka terekam masuk ke Indonesia melalui Malasyia-Bandung. Kemudian dilanjutkan ke Makkasar, di duga kuat datang secara bertahap ke Makassar kemudian singgah di sebuah tempat yang tuan rumah masih punya hubungan dengan orang-orang MIT di Poso. Tapi diluar dugaan mereka (WNA dan guide), aparat Intelijen mengehendus kehadiran mereka saat masuk Makkasar dan kemudian dilakukan tailing (penjejakan), hingga akhirnya ada rekomendasi untuk di adakan swepping didepan Polres Parigi Sulteng. Berbaliknya arah mobil ( yang berisi 4 WNA, 3 WNI) membuat aparat curiga sampai akhirnya terjadi pengejaran dan ditangkap 7 orang tersebut.

Kita bisa membuat analisa sementara, dengan kehadiran orang WNA mengindikasikan orang-orang MIT punya kemampuan kemunikasi keluar untuk mencari dukungan dan simpati. Tapi apakah orang WNA yang hadir adalah representasi dari jaringan jihad global seperti al Qaida atau utusan dari IS (Isalmic State)-ISIS tentu perlu pendalaman lagi terhadap 4 WNA yang ditangkap. Jangan sampai propaganda dari pihak-pihak opurtunis lebih banyak menentukan narasi ISIS eksis di Poso dibanding fakta yang sebenarnya. Dan peristiwa penggorokan Fadli yang diklaim oleh pihak MIT bisa jadi juga memberikan pesan bahwa agenda-agenda komunikasi mereka (MIT) dengan orang-orang asing tidak mau bocor karena “embernya” mulut warga. Mengingat 2 pekan sebelum tertangkapnya 4 WNA dilapangan sudah ada dinamika intimidasi dari kelompok MIT kepada masyarakat agar tutup mulut jika tidak maka nyawa taruhannya. Disamping itu ada konsistensi pesan mereka (MIT), bahwa mereka (MIT) masih eksis dan selalu mengibarkan bendera perang terhadap Densus-88. Namun seorang Fadli (sipil-petani) dan bukan Densus-88 nya yang menjadi korban. Sebuah ambiguitas perlawanan!.

Peristiwa ini adalah letupan dari magma persoalan yang lebih besar di Poso. Tapi yang pasti Poso masih menjadi negeri yang elok dengan deretan lembah bukit dan gunung-gunung hijaunya. Tapi dihadapkan pada anomali Poso menjadi “panggung” banyak kepentingan. (arrahmah.com)

Pemerintah penjajah “Israel” akan membangun tembok pembatas di selatan Al-Quds

israel-apartheid-seperation-wall-dome-of-the-rock-background-abu-dis

AL-QUDS (Arrahmah.com) – Pemerintah penjajah “Israel” telah menyetujui sebuah proyek untuk mendirikan sebuah tembok pembatas di desa Battir, selatan Al-Quds yang diduduki, ungkap sumber-sumber “Israel”, seperti dilansir MEMO pada Sabtu (20/9/2014).

Menurut sumber-sumber itu, kabinet “Israel” memutuskan untuk menyetujui pembangunan tembok pembatas pada pertemuan Minggu-nya.

Kepala Pengadilan Tinggi “Israel” Asher Gronis menyerukan pemerintah untuk meninjau konsekuensi politik dari tembok pembatas yang akan dibangun di atas wilayah Palestina yang telah UNICEF umumkan sebagai daerah yang menjadi lokasi warisan global.

Kementerian pertahanan “Israel” mengklaim bahwa tembok pembatas itu tidak akan menyentuh wilayah tersebut. Mereka juga mengatakan bahwa aktivis dan lembaga lingkungan Palestina sangat menolak dibangunnya tembok pembatas itu.

(banan/arrahmah.com)