Penulis Arsip: arrahmah.com

Serangan mujahidin hancurkan kendaraan militer dan tewaskan tentara Syiah di Mosul

irak nyoi

MOSUL (Arrahmah.com) – Pada hari Rabu (7/5/2014) Mujahidin Ansharul Islam menyerang kendaraan tim enginering tentara penjajah Rafidhah Irak di desa Al-Arabi, kota Mosul. Serangan itu menghancurkan kendaraan militer, menewaskan seorang tentara Rafidhah dan mencederai beberapa tentara lainnya. Berikut ini rilisan resmi mujahidin Ansharul Islam Irak terkait serangan tersebut, seperti dikutip oleh situs-situs jihad internasional.

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

Segala puji bagi Allah Yang memuliakan orang-orang beriman dan menghinakan orang-orang kafir. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada imam mujahidin dan komandan orang-orang yang wajahnya bercahaya karena bekas basuhan air wudhu, orang yang senantiasa tersenyum lagi ahli berperang; juga kepada keluarganya, seluruh sahabatnya dan setiap orang yang berjalan di atas manhaj mereka dan mengambil petunjuk dari petunjuk mereka sampai hari pembalasan. Amma ba’du…

Allah Ta’ala berfirman:

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Maka (yang sebenarnya) bukan kalian yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kalian yang melempar (menembak) ketika kalian melempar (menembak), tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Anfal [8]: 17)

Dengan taufik dan ketepatan dari Allah semata, Allah Ta’ala telah memberikan kemampuan kepada saudara-saudara kalian, tentara-tentara kebenaran, singa-singa Al-Anshar pada tanggal 7 Mei 2014 M pukul 18.30 sore, untuk menyerang kendaraan tim enginering tentara penjajah Rafidhah Irak di desa Al-Arabi, kota Mosul. Serangan itu menghancurkan kendaraan militer, menewaskan seorang tentara Rafidhah dan mencederai beberapa tentara lainnya. Segala puji bagi Allah semata.

 

Kantor ketentaraan dan jihad

Jama’ah Ansharul Islam

12 Rajab 1435 H

11 Mei 2014 M

(muhib al majdi/arrahmah.com)

Tausiyah: Bagaimana mencintai anak dan istri

foto-dalam-keramahan-keluarga-imigran10

Oleh Ustadz Abu Muhammad Jibriel Ar.

(Arrahmah.com) – Ikhwani fiddin rahimahullah, setiap manusia dianugrahi Allah Ta’ala dengan hawa nafsu dan kecintaan terhadap sesuatu hal sebagaimana yang Allah firmankan dalam sebuah ayat,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Pada hati manusia ditanamkan rasa cinta kepada kelezatan berupa kecintaan kepada perempuan, anak-anak, emas dan perak yang berkuintal-kuintal, kuda yang dijadikan tunggangan, hewan ternak dan sawah ladang. Semuanya itu hanyalah kesenangan hidup sementara di dunia. Padahal tempat tinggal yang terbaik bagi manusia hanya ada di sisi Allah.” (QS. Ali ‘Imran, 3: 14)

Na’am, kecintaan seseorang terhadap seseorang lainnya, kecintaan para thallahbul ilmu terhadap gurunya, kecintaan para orang tua terhadap keturunannya, atau kecintaan seorang kepala rumah tangga terhadap istri dan anak-anaknya.

Bahasan kali ini lebih menitik beratkan tentang kecintaan seorang suami atau ayah kepada keluarganya. Terdapat beberapa kemungkinan manakala seorang ayah atau suami dalam mencintai anak dan istrinya, yaitu:

  1. Sang ayah atau suami berusaha sekuat mungkin untuk dapat memuaskan dan memenuhi kemauan anak dan istrinya. Apa saja yang diminta dalam keperluan dunia harus dapat tercapai. Pantang baginya untuk dapat bersikap sebaliknya. Walaupun anak dan istrinya kurang dalam pendidikan atau kepandaian, yang penting bahagia dan terpenuhi dunianya. Suami seperti ini akan berprinsip: “Demi anak dan istriku, aku rela berkorban apa saja. Anak dan istriku adalah segalanya, pelita dan darah dagingku.”

  2. Suami yang kurang memperhatikan tentang pelayanan yang baik dalam keperluan dunia, tetapi memiliki sifat keras dalam mendidik anak supaya menjadi orang yang pandai dalam ilmu-ilmu dunia. Ia akan sanggup membelanjakan harta seberapa pun yang diperlukan demi pendidikan ini, namun meninggalkan pendidkan akhirat. Prinsipnya: “Biarlah hidup dengan meninggalkan banyak keperluan asalkan berjaya dalam studi dan sukses jadi orang berdasi.”

  3. Suami yang memberikan pelayanan dunia kepada anak-istrinya dalam lingkungan seperlunya. Tidak berlebihan dan tidak juga sampai menjadi fakir atau sangat miskin. Pendidikan dunia dan akhirat menjadi prioritas yang utama. Dia tidak membiarkan pendidkan jahiliyah meresap ke dalam diri anak dan keluarganya yang nantinya akan terus merajalela, sementara pendidikan akhirat terlalaikan.

Jenis dari perwatakan yang pertama dan kedua adalah tidak patut bagi mukmin yang shalih untuk mengikutinya. Keduanya tidak sejalan dengan tuntunan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Anak dan istrinya mestilah diperlakukan dan dididik seperti orang-orang shalih terdahulu dalam mendidik dan melayani keluarga mereka.

Adalah Rasulullah sangat mencintai anak-anaknya dan para istrinya. Simaklah sebuah contoh tentang bagaimana beliau memperlakukan orang-orang yang dikasihinya tersebut:

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat Rasulullah dan sekaligus menantunya yang miskin. Karena kemiskinannya, ia pernah menjual tenaganya kepada seorang wanita di pedesaan Madinah dan menyewakan tenaganya untuk menimbakan air kepada seorang Yahudi dengan mendapatkan upah satu biji kurma untuk setiap satu timbaan air. Istrinya yaitu Fatimah binti Muhammad pun bekerja keras untuk menumbuk gandum di rumah. Pada suatu hari pasangan suami-istri tersebut berbincang-bincang.

Berkatalah Ali kepada Fatimah, “Aku, demi Allah, telah banyak menimba dan memikul air sampai dadaku terasa sakit. Allah telah memberikan tawanan perang kepada ayahmu, pergilah kepadanya dan mintalah seorang pelayan.”

Fatimah pun berkata, “Aku juga, demi Allah, telah banyak menggiling gandum dengan gilingan tenaga sehingga kedua tanganku melepuh.”

Maka pergilah Fatimah ke rumah ayahnya meminta agar seorang pelayan diberikan kepadanya, akan tetapi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallaam sedang tidak berada di rumah, maka hal tersebut disampaikannya kepada ‘Aisyah radliyallahu ‘anha.

Setelah Rasulullah datang maka maksud kedatangan Fatimah disampaikan oleh ‘Aisyah. Maka Rasulullah pun datang kepada kami (Ali dan Fatimah) saat kami sudah masuk ke kamar tidur. Kami bangun menemui beliau, tetapi beliau shalallahu ‘alaihi wasallaam berkata,

“Tetaplah saja di tempatmu berdua.”

Lalu beliau bersabda,

“Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada yang kamu berdua minta? Bila kamu berdua akan memasuki tempat tidur, maka bertasbihlah 33 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertakbirlah 33 kali. Itu lebih baik bagi kamu berdua daripada apa yang kamu minta kepadaku.” (HR. Bukhari)

Dan dalam riwayat lain beliau mengatakan,

“Demi Allah, aku tidak akan memberi kamu. Apakah akan kubiarkan ahli suffah dengan perut yang lapar sedang aku tidak punya untuk membelanjai mereka. Oleh karena itu aku akan menjual tawanan itu agar dengan harganya aku dapat membiayai ahli suffah itu.” (HR. Ahmad)

Berkata ‘Aisyah, telah berkata Rasulullah didalam sakit yang membawa kepada wafatnya, “Hai ‘Aisyah, akan engkau apakan emas itu?” Kemudian ‘Aisyah mengambil antara 5 atau 7, 8 atau 9 buah dan memberikannya kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah membolak-balikkan emas itu ditangannya dan berkata, “Bagaimana perkiraanmu bila Muhammad menghadap Allah sedang emas ini masih berada padanya (Muhammad), oleh sebab itu, nafkahkanlah semua emas itu, wahai ‘Aisyah.” (HR. Baihaqi)

Pandanglah dengan bashirah, perhatikanlah dengan teliti, mengapakah Rasulullah tidak memberikan anak kesayangannya (Fatimah) seorang pembantu padahal Rasulullah mampu memenuhi keperluan anaknya? Tapi beliau malah menjawab, “Tidak wahai Fatimah, ada orang yang lebih berhak daripada engkau.” Adapun terhadap ‘Aisyah, mengapakah ia tidak diijinkan menyimpan emas? Sesungguhnya tidak ada larangan, namun disinilah letak pendidikan sejati itu.

Rasulullah mengajari umatnya untuk mencontoh tentang bagaimana cara mencintai anak dan istri. Bukan hanya dengan memberikan segala apa yang diminta dan memenuhi semua yang diperlukan, tetapi lebih dengan mengarahkan hati dan pikirannya dengan cara yang lembut supaya pandai mensyukuri yang sedikit dan menerima apa yang ada demi kebahagiaan akhirat.

Saksikanlah pula bagaimana Umar ibn Khattab radliyallahu ‘anhu dalam menyayangi anak dan istrinya.

Pada suatu hari sampailah ke kota Madinah harta kekayaan yang banyak dari berbagai daerah. Maka datanglah putrinya, Hafsah untuk meminta bagian. Ia berkata sambil bergurau, “Wahai amirul mukminin, keluarkanlah hak kaum kerabat.”

“Wahai ananda,” jawab Umar bersungguh-sungguh, “Mengenai hak kaum kerabat adalah dari kekayaan ayahmu, sedangkan harta ini adalah harta kaum muslimin, bangkitlah dan pulanglah ke rumah.”

Pada suatu hari Ummu Kultsum, istri Umar ibn Khattab mengirim beberapa botol kecil minyak wangi kepada istri kaisar Romawi Timur sebagai bingkisan persahabatan. Isteri kaisar lalu membalas pemberian tersebut dengan mengembalikan botol-botol dengan berisikan permata. Ketika Umar mengetahui kejadian itu, ia berkata kepada isterinya,

“Walaupun wangi-wangian itu adalah kepunyaanmu, tetapi pesuruh yang telah membawanya adalah pegawai negara dan pembiayaan kedutaan besar dibiayai oleh negara.”

Maka ia menyita permata itu dan menyerahkannya kepada perbendarahara negara serta membayar sejumlah uang kepada istrinya seharga minyak wangi yang telah dikirimkan kepada istri Kaisar Romawi itu.

Mengapa khalifah Umar menghendaki anaknya yaitu Hafshah untuk pulang? Dan ‘menyita’ barang milik istrinya sendiri? Pelajaran apa yang bisa dipetik dari kedua peristiwa tersebut?

Bahwasanya beliau radliyallahu ‘anhu mengajarkan tentang bagaimana berhati-hati dalam memegang amanah umat dan agar tidak terjerumus kedalam perkara-perkara syubhat. Dalam pandangan umat akan perkara tersebut mungkin menjadi sebuah perkara yang terlihat wajar-wajar saja, akan tetapi tidak bagi seorang Umar. Beliau amat takut apabila diri dan keluarganya menyimpang dari jalan Allah Ta’ala, termasuk berhati-hati dari perkara yang samar.

Itulah pelajaran yang agung dan teladan yang lurus, yang sinarnya datang melalui sumbernya yang asli yaitu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallaam.

Ini adalah satu perwujudan dari iman, ketakwaan, dan keshalihan. Seorang suami yang shalih tentu akan senantiasa memperhatikan metode dan cara-cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Kehebatan seorang suami yang mukmin dan kemuliaannya ialah sampai seberapa jauh ia berusaha untuk dapat mengikuti sunnah nabi-Nya dan uswah (contoh yang baik) para khulafaa’ ar-Rasyidin disetiap semua perkara, termasuk dalam membentuk keluarga berasas Robbani.

Oleh karena itu, cinta kepada istri dan anak bermakna melayani dan memperlakukannya sebagaimana amanah Allah, berbuat adil kepada mereka dan memberikan hak-haknya sebagaimana yang Allah bebankan kepada si ayah atau suami.

Bagi seorang suami-istri adalah teman hidup yang paling dekat. Ia adalah sahabat setia, penolong, pembawa bebanan yang berat, penasehat dikala kegamangan, penghibur dikala kesedihan, pemberi semangat dikala lemah dan terpuruk, serta penyejuk hati dikala tersengat panas.

Ia jugalah penjaga rumah suami dan pendidik bagi anak-anaknya. Namun manakala seorang suami merasakan kebengkokan perangai dari istrinya, maka ia bertugas untuk meluruskan. Ketika seorang istri berbuat kekhilafan, maka suami memperingatkan serta memaafkan. Ataupun ketika tampak kelelahannya, maka suami pun tidak memiliki kecanggungan untuk membantu rutinitas kerumah-tanggaan istrinya.

Untuk itu wahai para suami, senantiasa do’akanlah istri agar tetap bersabar dan istiqamah dalam kebenaran. Didiklah ia dengan pendidikan rabbani. Demikian juga terhadap anak-anak, didik dan arahkan mereka menjadi mujahidin dan mujahidah penegak agama Allah dan pewaris kebenaran dimasa depan.

Allah Ta’ala telah memperkaya kita dengan harta berharga berupa istri dan anak-anak yang harta tersebut menjadi sebuah amanah yang kelak dimintai pertanggung-jawabannya. Oleh karenanya Allah Ta’ala tegas mengingatkan kepada setiap hamba-Nya yang beriman perihal ini,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa neraka. Neraka itu bahan bakarnya adalah manusia dan berhala-berhala. Malaikat yang kekar lagi kasar menjaga neraka. Para malaikat tidak pernah menyalahi perintah yang Allah berikan kepada mereka. Para malaikat senantiasa melaksanakan perintah-Nya.” (QS. at-Tahrim, 66: 6)

Demikian uraian singkat ini semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bis shawwab.

(abujibriel.com/arrahmah.com)

Nigeria nyatakan “siap” berdialog dengan Boko Haram

Para gadis yang disandera olehBoko Haram, terlihat mengenakan hijab.

ABUJA (Arrahmah.com) – Otoritas Nigeria mengatakan pihaknya “siap” untuk mengadakan pembicaraan dengan Mujahidin Boko haram untuk membebaskan 130 perempuan yang saat ini berada dalam tahanan Boko Haram.

“Jendela negosiasi masih terbuka,” ujar Menteri Urusan Khusus, Taminu Turaki kepada AFP.

Turaki mengklaim bahwa pihaknya selalu bersedia untuk berdialog dengan Boko Haram.

“Kami bersedia untuk melakukan dialog untuk masalah apapun, termasuk gadis-gadis yang ditangkap di Chibok, karena tentu kami tidak akan mengatakan bahwa (penculikan) bukanlah masalah,” klaimnya.

Pernyataan sang menteri disampaikan sehari setelah Mujahidin Boko Haram merilis video di mana amir mereka, Abubakar Shekau mengatakan gadis-gadis tersebut ditangkap dari sebuah sekolah pada bulan lalu dan mereka semua akan dibebaskan jika tuntutan Boko Haram dipenuhi.

Pihak Boko Haram menginginkan seluruh anggotanya yang saat ini berada dalam tahanan thagut Nigeria segera dibebaskan untuk ditukar dengan pembebasan para gadis tersebut.

Tapi usulan itu ditolak oleh pemerintah Nigeria. AS juga menentang setiap pembicaraan dengan Boko haram dengan mengatakan bahwa kebijakan AS adalah “menolak penculik mengambil manfaat dari tindakan kriminal mereka termasuk uang tebusan atau konsesi”.

Di masa lalu, Boko Haram telah beberapa kali menyatakan tuntutannya kepada pemerintah Nigeria, tetapi selalu diabaikan oleh pemerintah Nigeria. Kali ini mereka menyatakan akan melakukan tindakan tegas jika tuntutannya tidak dipenuhi. (haninmazaya/arrahmah.com)

Para Ustadzah berikan edukasi waspada pedofilia

LAZIS Dewan Dakwah tak ketinggalan ambil bagian dalam menanggulangi darurat nasional itu. Dengan tema Selamatkan Anak Indonesia dengan Dakwah, lembaga ini menggelar roadshow edukasi mengantisipasi pedofilia. Dalam edukasi kepada 80 santri TPQ dan Rumah Tahfidz Al Azmy, Sabtu, 10 Mei lalu, tampil Ustadzah Zumrotin Misbah dan Suminah sebagai pembicara.

JAKARTA (Arrahmah.com) – Indonesia adalah ”surga” kaum pedofil (lelaki dewasa pemerkosa anak-anak). Menurut Biro Investigasi Amerika Serikat (FBI), negeri ini memiliki wabah pedofilia tertinggi di Asia. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir, setiap tahun sekitar 400 anak Indonesia menjadi mangsa pedofil. Sepanjang tahun 2014 ini saja, sudah terjadi lebih 500 kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak.

Dengan data sangat mengerikan itu, KPAI menetapkan status Darurat Perlindungan Anak Indonesia. Presiden SBY pun belum lama ini membahasnya secara khusus dalam rapat kabinet terbatas, dan konon akan menerbitkan Inpres sebagai instrumen hukum kedaruratan tersebut.

LAZIS Dewan Dakwah tak ketinggalan ambil bagian dalam menanggulangi darurat nasional itu. Dengan tema Selamatkan Anak Indonesia dengan Dakwah, lembaga ini menggelar roadshow edukasi mengantisipasi pedofilia.

Menurut Direktur Eksekutif LAZIS Dewan Dakwah, H Ade Salamun, roadshow tersebut ditujukan kepada segenap stakeholder lembaga pendidikan Islam. ”Kami mengedukasi anak-anak, orangtua, dan masyarakat sekitar Taman Pendidikan Alquran serta sekolah Islam, agar mereka berperan bersama dalam mengantisipasi pedofilia,” tutur Ade.

Pada pekan pertama Mei 2014, edukasi berlangsung di lingkungan TPA Al Azmy Gunungsindur, Bogor. Dimulai dengan pembekalan terhadap para guru, kemudian majlis taklim kaum ibu, majlis taklim kaum bapak, lalu majlis santri. Total jumlah peserta edukasi sekitar 300 orang.

Materi edukasi meliputi data dan fakta pedofilia di Tanah Air, bahaya wabah pedofilia, dan jurus-jurus pencegahan serta penanggulangan pedofilia menurut ajaran Islam.

Dalam edukasi kepada 80 santri TPQ dan Rumah Tahfidz Al Azmy, Sabtu, 10 Mei lalu, tampil Ustadzah Zumrotin Misbah dan Suminah sebagai pembicara.

Dalam petuahnya, Ustadzah Zumrotin yang alumnus UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, mengajak anak-anak untuk meneguhi iman dan syariat Islam. ”Dengan berpegang teguh kepada Qur’an dan Hadits, insya Allah kita selamat dunia-akhirat,” katanya.

Pada sesi berikutnya, guru Homeschooling Khoiru Ummah Pamulang Ustadzah Suminah menjelaskan fenomena maraknya pedofilia di Indonesia. Dalam bahasa anak-anak, ia terangkan makna pedofilia sebagai sebuah penyimpangan dan kejahatan.

Sebagian santri yang hobby nonton televisi dan masih suka main ke warnet, ternyata lebih cepat nyambung dengan pemaparan Ustadzah tentang kasus Emon. Namun, mereka mengaku baru tahu maksudnya setelah dijelaskan melalui acara ini.

Ustadzah Suminah lalu memberi tips mencegah pedofilia. ”Kita harus menutup aurat, baik kepada lawan jenis maupun sesama jenis. Kepada orangtua atau saudara kandung di rumah sekalipun, kita harus menutup aurat vital,” katanya sambil menjelaskan kembali batas aurat laki-laki dan wanita.

Ustadzah mengingatkan, jika santri main futsal, aurat juga tetap dilindungi. ”Kenakan seragam olahraga yang sesuai dengan adab Islam,” tandasnya.

Walaupun dengan saudara atau teman sejenis, lanjut Ustadzah, tidak boleh berduaan dalam satu selimut. Kemudian, waspada terhadap orang yang tak dikenal, baik saat ketemu di alam nyata maupun di dunia maya (media sosial) seperti di facebook. ”Kalau main facebook, jangan asal banyak teman dan jangan menuruti ajakan orang tak dikenal misalnya yang mengaku sebagai dokter,” imbuh Ustadzah Suminah.

Dia juga mengajak anak-anak untuk menghindari tontonan artis-artis berlagak bencong. ”Berlagak bencong itu haram, baik dalam busana, tata rias, suara, maupun gerakan,” urainya. ”Laki-laki bencong itu tidak lucu, tapi bahaya, harus dihindari,” ia menandaskan.

Edukasi berakhir dengan games dan diskusi berhadiah.

Ketua Umum Dewan Dakwah KH Syuhada Bahri mengajak masyarakat untuk mendukung program Selamatkan Anak Indonesia dengan Dakwah melalui roadshow edukasi mengantisipasi pedofilia. (azm/izdihar hasna/nurbowo/arrahmah.com)

Laporan HRW : Bukti kuat nyatakan rezim Assad menggunakan gas klorin dalam serangannya

Korban serangan gas klorin tengah dirawat di rumah sakit Bab al-Hawa.  (Foto ; Reuters)

NEW YORK (Arrahmah.com) – Bukti sangat menunjukkan bahwa rezim Nushairiyah Suriah telah menggunakan gas klorin pada tiga kota di pertengahan April yang melanggar perjanjian senjata kimia di mana Damaskus bergabung tahun lalu, ujar Human Rights Watch (HRW) pada Selasa (13/5/2014) seperti dilaporkan AFP.

“Bukti kuat menunjukkan bahwa helikopter pemerintah Suriah menjatuhkan bom barel yang tertanam dengan silinder gas klorin di tiga kota di Suriah utara pada pertengahan April 2014,” ujar HRW.

Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di New York tersebut mengutip wawancara dengan saksi dan tenaga medis juga video serangan dan foto-foto dari sisa-sisa bom barel.

Dokter yang merawat korban mengatakan sedikitnya 11 orang tewas dalam serangan dan gejala yang konsisten dengan paparan klorin terlihat pada hampir 500 korban.

Serangan yang terdokumentasi terjadi di kota-kota Kfar Zeta di pusat Hama pada 11 dan 18 April, Al-Temana di Idlib pada 13 dan 18 April dan Telmans juga di provinsi Idlib pada 21 April.

Ketiganya merupakan daerah yang dikuasai oleh pejuang Suriah.

Sumber-sumber oposisi telah menyatakan beberapa serangan rezim menggunakan gas klorin, dan televisi rezim Suriah mengakui satu serangan seperti di Kfar Zeta, namun menyalahkannya pada Mujahidin Jabhah Nushrah.

Namun para aktivis oposisi mengatakan klorin dijatuhkan bersamaan dengan bom barel yang turun dari helikopter dan itu hanya dimiliki oleh rezim Suriah.

HRW mengatakan video sisa-sia bom barel di lokasi serangan menunjukkan cannister dengan kode CL2, simbol untuk gas klorin.

“Penggunaan gas klorin sebagai senjata, belum lagi menargetkan warga sipil, merupakan pelanggaran jelas dari hukum internasional,” ujar wakil HRW Timur Tengah dan Afrika Utara, Nadim Houry. (haninmazaya/arrahmah.com)

Korupsi Transjakarta, Undar Pristono: Jokowi-Ahok ikut bertanggung jawab

Jokowi dan Undar Pristono (tengah)

JAKARTA (Arrahmah.com) – Tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan Bus Transjakarta, Udar Pristono, meminta Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ikut bertanggung jawab dalam kasus yang menjeratnya.

Dia beralasan, rencana pengadaan bus sudah melalui proses struktural kelembagaan. “Ini proyek sudah melalui persetujuan dari atas, Pak Gubernur. Tapi Pak Gubernur di sini bukan pribadi, tapi pemerintahan. Ada DPRD juga di sini. Ini struktural dari atas ke bawah, dari RPJMD,” kata Udar di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (13/5/2014), lansir okezone

Mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta ini mengungkapkan, seluruh pejabat Balai Kota di berbagai tingkatan mengetahui ihwal pengadaan bus Transjakarta ini.

“Ini adalah program pemerintah. Ini dilakukan secara struktural, gubernur, SKPD, dan DPRD. Seluruh instansi Pemerintah Provinsi DKI mengetahui ini,” ujarnya.

Dia berharap Pemprov DKI bisa membantu menyediakan bantuan hukum atas kasus pengadaan Bus Transjakarta yang menjeratnya itu. “Saya kan baru kemarin ditetapkan menjadi tersangka, jadi akan bawa penasihat hukum. Tapi kalau Pemprov tidak menyediakan (bantuan hukum), Kejaksaan yang akan menyiapkan,” ujarnya.

Seperti diketahui, kemarin Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali menetapkan dua tersangka baru dalam kasus pengadaan Bus Transjakarta. Mereka adalah mantan Kadishub DKI Udar Pristono serta Direktur Pusat Teknologi dan Sistem Transportasi di Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Prawoto.

Sebelumnya, Kejaksaan menetapkan pegawai negeri sipil (PNS) Dishub DA sebagai tersangka. DA adalah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Bus Peremajaan Angkutan Umum Reguler dan Kegiatan Pengadaan Armada Bus Busway dan ST sebagai Ketua Panitia Pengadaan Barang/Jasa Bidang Pekerjaan Konstruksi 1 Dinas Perhubungan DKI Jakarta. (azm/arrahmah.com)

Jerat legal of frame untuk Mujahidin Suriah

a0

Oleh : Abu Nisa (Aktivis Gerakan Kontemporer Indonesia)

(Arrahmah.com) – Sejak peristiwa WTC 9/11, AS menggunakan momentum itu untuk memetakan sekaligus mengeleminasi potensi ancaman yang mereka sebut “terorisme”. Sejak itu dibuatlah juga kerangka legislasi di level global melalui lembaga-lembaga internasional sebut saja diantaranya ICG. Yang berimplikasi hingga sampai di level nasional atas nama “war on terrorism”. Sebuah proses kelahiran yang berbarengan. Antara badan-badan internasional, regional, atau forum-forum internasional, regional yang konsen pada pembahasan terorisme. Dengan kerangka legislasi internasional sebagai pijakan hukum perang melawan terorisme. Dipertajam dengan kombinasi antara pembentukan opini dunia, legal of frame internasional dan tindakan fisik atas nama law of enforcement. Secara paralel kita bisa melihat kemudian begitu masifnya invasi militer oleh Kafir Muharibban Fi’lan laknatulloh AS bersama sekutunya ke berbagai negeri muslim. Mulai dari Irak hingga Afghanistan atas nama mewujudkan perdamaian dunia. Dengan menutupi motif ekonomi busuk sebenarnya mengeksploitasi sumber daya alam. Mainstream “war on terrorism” akhirnya menjadi opini standart acuan sikap politik berbagai negara yang berkiblat pada barat di bawah komando koboi dunia AS. Naifnya, sebagian besar para penguasa negeri muslim mengamininya. Bahkan ikut larut dan hanyut dalam gelombang propaganda “war on terrorism”. Dan bercampur secara acak antara kepentingan dunia ala koboi AS dengan kepentingan lokal nasional para penguasa dalam percaturan politik internal sebuah negara.

Di Indonesia sendiri “war on terrorism” menjadi perbincangan yang populer. Momentum besarnya pasca Bom Bali II. Diikuti kemudian dengan berbagai peristiwa terorisme yang terkonfigurasi menjadi cerita panjang terorisme hingga kini. Bahkan kerangka infrastrukturnya sudah mapan terbentuk. Mulai dari legal of frame (UU Intelijen, UU Terorisme, UU Pendanaan Terorisme, RUU Kamnas), badan-badan negara (BNPT dan Densus 88), maupun desain opini nasional secara masif. Yang terbaru adalah penyusunan standart kode etik jurnalistik untuk reportase peristiwa terorisme buah hasil kerjasama antara Dewan Pers dengan BNPT. Keberadaan kerangka infrastruktur tentu tidak saja untuk memenuhi kepentingan temporer. Melainkan kepentingan jangka panjang yang memperhatikan hubungan konstelasi politik dunia dengan kontelasi politik nasional. Sepanjang konflik dunia islam dengan barat kafir terus menjadi kenyataan politik dunia. Maka keberadaan kerangka infrastruktur itu menemukan relevansinya. Tinggal menggerakkan saja kerangka itu untuk obyek sasaran yang dituju. Semua itu berpangkal juga di antaranya pada integritas kepemimpinan para penguasa negeri muslim. Jika masih menempatkan posisinya sebagai barisan antek-antek penjajah asing maka “war on terrorisme” akan terus menjadi topik tak berkesudahan.

Ke depan di antara sasaran yang seksi dituju pasca Afghanistan, Irak, Palestine dan lain-lain adalah Suriah. Fakta politik Suriah menjadi pusat perhatian sangat penting dunia terutama barat laknatulloh. Suriah memiliki posisi geopolitik sangat strategis yang akan menentukan perubahan besar peta politik dunia. Apalagi medan jihad Suriah menjadi pesona yang indah bagi para mujahidin berbagai penjuru dunia merengkuh keagungan dan kemuliaan. Seiring dengan peliknya konflik internal yang menghiasi perjalanan perjuangan jihad di sana. Ini yang agak sedikit membedakan dengan medan jihad di beberapa negeri muslim yang lain. Gelombang dukungan Jihad di bumi Syam begitu menggelora. Termasuk dukungan dari Indonesia. Semua dukungan yang mengalir secara alamiah tidak ada satupun yang memiliki kepentingan politik tertentu. Kecuali ikhlas semata-mata karena dorongan keyakinan dan keimanan untuk membantu saudara seimannya. Lain lagi jika motifnya sebagai bagian dari operasi intelijen. Yakni operasi untuk memecah belah para mujahidin yang sedang berjihad di bumi Syam. Atau menginventarisir database para mujahidin dari Indonesia yang sebagian syahid dan sebagian yang lain kembali ke tanah air. Untuk sebuah investasi cerita panjang perburuan terorisme tak berujung di negeri ini.

Dengan melihat konstelasi politik menjelang pilpres Juli mendatang sangat jelas terlihat arah kebijakan politik ke depan yang sama dengan kebijakan politik penguasa sebelumnya. Dimana legal of frame produk legislasi tetap dominan bernuansa 2 kepentingan. Pertama, menikam, merugikan dan menyengsarakan rakyat. Kedua, berpihak pada kepentingan asing. Dalam konteks legal of frame terorisme maka implementasinya ke depan bukan tidak mungkin disasarkan kepada para veteran mujahidin Suriah yang kembali ke Indonesia. Pasca dalam beberapa waktu yang lama disasarkan kepada para veteran mujahidin Afghanistan. Apalagi terlihat jelas pada sosok capres yang sekarang memiliki dukungan konspirasi kuat -Jokowi-. Sosok yang banyak pihak menyebut sebagai antek asing dan aseng. Implementasi legal of frame terorisme ke depan akan semakin masif dan sistematis pada sosok RI 1 yang menjadi antek asing dan aseng. Menjadi jaring atau jerat yang sewaktu-waktu akan dipergunakan sebagai bahan mendesain perburuan “war on terrorism”. Bersiaplah para pejuang islam terutama para mujahidin mukhlis untuk menghadapi tantangan ke depan yang semakin dinamis. Marilah kita renungkan apa yang disampaikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’alla :

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْۚفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةًۚوَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰۚوَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

“Orang-orang mukmin yang tinggal di rumah tidak mau ikut berperang, padahal ia tidak ada halangan, tidak sama martabatnya dengan orang-orang mukmin yang berjihad untuk membela Islam dengan harta mereka dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya satu derajat atas orang-orang yang tetap tinggal di rumah. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala di akhirat. Allah lebihkan orang-orang yang berjihad dengan pahala yang sangat besar atas orang yang tetap tinggal di rumah.” (Tarjamah tafsiriyah QS. An Nisa’, 4 : 95). Wallahu a’lam bisshowab.

(arrahmah.com)

Nasehat Syaikh Muhaisini kepada para tentara, pembela, dan keluarga ISIS

Syaikh Al Muhaisini Hafizahullah (kanan)

(Arrahmah.com) – Semua twit yang kami tulis berikut ini adalah sebagai nasehat dan penjelasan serta keberlepasan diri dari tanggung jawab kami kepada Allah. Meskipun kami akan mendapat celaan-celaan, tuduhan khianat, fasik dan bodoh.

Demi Allah, kalaulah bukan karena kami takut Allah hendak menghukum kami dengan sikap diam kami terhadap apa yang kami saksikan dan ketahui, sungguh kami akan diam, kami tetap bersabar dan mencari pahala. Dan sungguh kami menadzarkan jiwa kami hanya kepada Allah, kami keluar dari negeri-negeri kami dan meninggalkan anak-anak kami semata-mata mencari ridha Allah.

Maka kami tidak akan diam dari menyampaikan kebenaran dengan terang-terangan dan menjelaskannya, karena sungguh Nabi kita shallalahu ‘alaihi wasallam telah memasukkan orang yang menyampaikan kebenaran dengan terang-terangan pada tingkatan derajat jihad paling tinggi. Dan penghulu para syuhada itu adalah orang yang menyampaikan kebenaran secara terang-terangan lalu dia dibunuh karena hal itu. Dan tidak ada yang kami harapkan lagi setelah Allah mengaruniakan kepada kami berupa nikmat jihad dengan lisan dan jiwa.

Dan aku bersumpah demi Allah, sekiranya bukan karena kasih sayangku kepada mereka yang keluar dari negeri-negeri mereka dengan niat menunaikan perintah Allah yaitu menolong orang-orang yang lemah, sungguh kami akan diam. Namun ternyata sesampainya mereka di tempat di mana mereka tuju, niat mereka melenceng, mereka membunuh kaum muslimin dengan tuduhan (orang-orang murtad).

Demi Allah yang telah menciptakan langit, sungguh hati ini pilu menyaksikan mereka, mereka keluar dari negeri mereka untuk menolong agama Allah lalu mereka ditipudaya sehingga mereka memerangi orang-orang Islam. Demi Allah tidaklah berlalu hari-hari kecuali aku berdoa kepada Allah agar mengembalikan mereka kepada kebenaran dan tidak turut serta dalam memerangi kaum muslimin.

Sungguh sangat disayangkan, dia seorang pemuda yang bersemangat yang terbakar hatinya menyaksikan keadaan penduduk Syam, lalu dia pun datang ke Syam berniat menolong mereka. Namun ketika dia sampai di Syam dia malah menjadi adzab dan bencana atas mereka.

Dan sungguh di sini aku akan mengulangi nasehatku kepada para tentara Daulah [Islam Irak dan Syam atau Islamic State of Irak and Sham (ISS)], keluarga mereka serta para penolong mereka… Apakah untuk ini kalian keluar? Apakah kalian keluar hanya untuk mengkafirkan mujahidin?

Aku katakan: Sesungguhnya orang yang membantu Daulah pada hari ini ada salah satu dari dua kemungkinan:

  1. Sikap simpati karena ada keluarga dekatnya bergabung di Daulah
  2. Semangat terhadap apa yang dia lihat dari kampanye-kampanye Daulah

Adapun bagi dia yang bergabung dengan Daulah atau memberikan bantuan kepadanya karena cinta dan rindu akan kembalinya khilafah, dia kagum terhadap namanya (Daulah) dan terhadap apa yang dia lihat berupa fenomena-fenomena (kampanye) syar’i, seperti mushalla-mushalla di pasar-pasar dan billboard-bilboard bertuliskan (Daulah Islamiyah) dan selainnya.

Maka kami katakan kepada mereka: Demi Dzat yang telah meninggikan tujuh lapis langit, tidaklah kami keluar dan berhijrah kecuali hanya untuk menegakkan syariat Allah dan agar dien ini seluruhnya milik Allah, dan untuk menolong kaum yang lemah dan darah ini kami korbankan untuk itu. Sungguh kami telah mengingkari Demokrasi mereka dan nasionalisme mereka.

Perbedaan kami dengan jama’ah (Daulah) ini terletak pada ushul. Maka tidak berguna lagi cabang-cabangnya apabila ushul-nya telah rusak. Apa gunanya seseorang memanjangkan jenggotnya namun dia menyakini penghuni kubur bisa memberi manfaat.

Wahai para pencari kebenaran, tidak ada gunanya handphone untuk menge-twitt dan potret-potret orang yang sedang shalat di pasar apabila dia gampang menumpahkan darah dan mengkafirkan kaum muslimin.

Wahai tentara Daulah, jujurlah kepada Allah dan lihatlah kembali tulisan-tulisan di akunmu dan lihatlah majelis-majelismu niscaya engkau akan mendapati seluruhnya berisi tikaman terhadap mujahidin selain anggota jama’ahmu, mengkafirkan mujahidin dan menuduhnya dengan khianat. Engkau juga akan mendapatinya penuh dengan kata-kata ghibah dan tikaman terhadap para ulama dan cercaan terhadap mereka. Aku bersumpah kepadamu demi Allah, aku bersumpah kepadamu demi Allah, apakah ini jihadmu?

Wahai tentara Daulah dan para penolongnya, ingat-ingatlah!! Bahwa engkau turut bertanggung jawab dalam menumpahkan darah para muwahidin yang dilakukan oleh dinas intelijen (Daulah). Dan ingat-ingatlah!! Sekiranya penduduk langit dan bumi berkumpul untuk membunuh seorang muslim tanpa hak, sungguh Allah akan mencampakkan mereka ke dalam neraka. Adapun ucapanmu bahwa Jabhah Nushrah, Ahrar Syam dan selainnya begini dan begitu, maka tidak mengapa bagimu keluar dari jamaah (Daulah) dan bergabung dengan jama’ah apa saja selainnya seperti Katibah Al-Khadra’ dan Liwa’ Muhajirin yang keduanya tidak terlibat dalam konflik.

Wahai tentara Daulah dan para penolongnya!!! Cukuplah kalian tahu bahwa para ulama umat yang terdahulu dalam jihad dan berpengalaman dalam jihad, berbeda-beda terhadap status jama’ahmu. Diantara mereka ada yang menganggap sebagai jama’ah khawarij, dan diantara mereka ada yang menganggapnyya jama’ah baghiyah.

Maka wahai engkau yang keluar berniat untuk menolong agama Allah, kembalilah engkau kepada niatmu, sesungguh kewajibanku padamu hanya menasehati.

Dan siapa saja yang membantu Daulah karena rasa simpati pada kerabat yang menjadi anggotanya atau karena seorang kawan, maka kepada mereka kami katakan: Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kalian telah turut serta dalam menumpahkan darah kaum muslimin dengan kicauan twit kalian wahai para pendukung Daulah, padahal kalian tidak melihat apa yang kami lihat.

Ingat-ingatlah!! Sungguh kalian telah turut bertanggung jawab atas ratusan darah yang telah ditumpahkan oleh Jama’ah Daulah dengan cara zhalim, maka bersiap-siaplah menanggung itu semua.

Sungguh aku katakan kepadamu perihal jama’ah tersebut (Daulah), demi Allah aku tidak menginginkan apa-apa darinya melainkan hanya keselamatanmu. Janganlah fenomena (kampanye) yang nampak padanya menipumu. Sungguh khawarij pada zaman Ali sangat menjaga shalat malam dan puasa mereka, bahkan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam berkata tentang khawarij: “Shalat kalian itu remeh tidak ada apa-apanya dibandingkan shalatnya mereka”. Bukanlah pelajaran itu berdasarkan apa yang nampak semata. Maka bertakwalah kepada Allah, untuk apa engkau keluar dari negeri-negeri kalian?

Wahai siapa saja yang membela (Daulah)!! Apakah engkau siap bertemu Allah dengan membawa darah anak-anak dan para masyayikh jihad? Ingatlah sesungguhnya engkau ikut bertanggung jawab atas darah mereka.

Tulisan di atas adalah kumpulan dari 30 twitt, yang kami tulis khusus untuk para tentara dan pembela serta para keluarga Jama’ah Daulah, sehingga kelak ketika bertemu Allah, kami akan berkata: “Wahai Rabb tidaklah kami mengatakan kecuali apa yang kami saksikan”.

Ya Allah, demi nama Mu yang Agung, wahai yang Maha Mengawasi, Pemilik Ketinggian dan Kemuliaan, segera kembalikan para tentara Daulah kepada kebenaran jangan tunda-tunda.

Oleh Dr. Abdullah Al-Muhaisiny, @mhesne
Dikumpulkan oleh, @palestinian2014

Diterjemahkan oleh :
MUQAWAMAH MEDIA TEAM

(aliakram/arrahmah.com)

Foto mujahidin menguasai bagian selatan desa Jam’iyatu Az-Zahra’ Aleppo, mayat tentara Nushairiyah bertebaran dimana-mana

ALEPPO (Arrahmah.com) – Perang antara mujahidin Islam dan pasukan rezim Nushairiyah itu bagaikan perputaran roda. Kalah dan menang silih berganti dengan cepat. Pada akhirnya kemenangan akan diraih oleh mujahidin Islam yang tulus berjihad demi menegakkan syariat Islam dan menolong rakyat muslim yang tertindas.

Sejak awal Januari 2014 rezim Nushairiyah Suriah dan milisi-milisi Syiah sekutunya menggelar operasi militer besar-besaran di propinsi Aleppo. Mereka merangsek maju dan merebut satu per satu wilayah di kedua propinsi tersebut. Mujahidin Islam terdesak mundur dan para ulama menyerukan mobilisasi jihad untuk menyelematkan Aleppo dan pinggiran Aleppo.

Empat kelompok jihad lokal yaitu Jabhah Nushrah, Jabhah Islamiyah, Harakah Fajr Asy-Syam Al-Islamiyah dan Jaisyul Mujahidin segera membentuk Kamar Operasi Gabungan Penduduk Syam di propinsi Aleppo dan pinggiran Aleppo. Mereka menyatukan kekuatan mereka dan menggelar operasi gabungan “Peperangan Al-I’tisham” untuk menghadang invasi besar-besaran pasukan Nushairiyah dan milisi Syiah di Aleppo dan pinggiran Aleppo.

Dua kelompok jihad lainnya, Jama’ah Ansharul Islam fi Bilad Asy-Syam dan Jaisyul Mujahidin wal Anshar, juga membentuk operasi gabungan untuk menghadapi pasukan rezim Nushairiyah Suriah dan milisi-milisi Syiah di Aleppo dan pinggiran.

Pada pertengahan Maret 2014 keenam kelompok jihad itu mulai merebut kembali beberapa wilayah yang telah diduduki oleh pasukan Nushairiyah dan milisi Syiah. Para pertengahan April 2014 keenam kelompok jihad itu bahkan mulai menyerang desa-desa Nushairiyah yang menjadi markas-markas pertahanan terkuat pasukan Nushairiyah di Aleppo. Desa An-Nabl, Jam’iyatu Az-Zahra’, Syaikh Najjar, Naqarin dan beberapa desa Nushairiyah lainnya mulai dimasuki oleh mujahidin.

Desa Jam’iyatu Az-Zahra adalah desa Nushairiyah di kota Aleppo. Desa tersebut merupakan salah satu markas pertahanan terkuat pasukan rezim Nushairiyah Suriah dan milisi-milisi Syiah di Aleppo.

Dalam pertempuran lanjutan pada Senin (12/5/2014) mujahidin yang tergabung dalam Kamar Operasi Gabungan Penduduk Syam semakin jauh memasuki desa Jam’iyatu Az-Zahra’. Rumah-rumah dan bangunan-bangunan dalam bagian selatan desa itu semakin banyak yang mereka kuasai. Mujahidin melakukan penyisiran dan pembersihan di tengah kecamuk baku tembak sengit dalam desa tersebut. Belasan tentara Nushairiyah Suriah tewas dalam pertempuran dalam desa tersebut.

Hampir semua bangunan dan rumah penduduk dalam desa Jam’iyatu Az-Zahra’ telah dialih fungsikan menjadi markas pertahanan dan asrama militer oleh rezim Nushairiyah. Pada dinding rumah-rumah penduduk yang telah direbut mujahidin tertulis slogan-slogan agama Syiah Iran dan Lebanon.

Mujahidin Jama’ah Ansharul Islam fi Bilad Asy-Syam melalui akun resminya pada hari Senin (12/5/2014) merilis foto-foto yang memperlihatkan kelompok mujahidin tersebut dan Jaisyul Muhajirin wal Muhajirin menguasai banyak bangunan dan gedung dalam desa Jam’iyatu Az-Zahra’. Mereka melakukan pembersihan dan penyisiran sambil berjaga-jaga untuk pertempura hari-hari berikutnya. Foto-foto tersebut juga memperlihatkan mayat tentara-tentara Nushairiyah bertebaran di bekas lokasi pertempuran. Allahu akbar wal hamdulillah.

(muhib al majdi/arrahmah.com)

Pokok-pokok ketentuan syariat dalam bidang politik dan pemerintahan (14)

masjid mesir4

(Arrahmah.com) – Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan seluruh sahabatnya serta umatnya yang komitmen menjalankan syariatnya. Amma ba’du.

 

Bab I

Mentauhidkan Allah dalam bidang kekuasaan, hukum dan ketaatan

Ketentuan 17

Khalifah boleh meminjam harta kepada Baitul Mal [keuangan negara] dan ia wajib melunasinya, bendahara [pejabat] yang mengurusi Baitul Mal memiliki wewenang indipenden, dan khalifah mengembalikan harta yang melebihi kebutuhan hidup keluarganya kepada baitul mal

 

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanat-amanat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan [Allah memerintahkan] jika kalian memutuskan perkara diantara manusia maka kalian wajib memutuskan dengan adil…” (QS. An-Nisa’ [4]: 58)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wajib bagi imam [penguasa] untuk memutuskan perkara dengan hukum yang Allah turunkan dan menunaikan amanat. Jika imam telah melaksanakan hal itu, maka wajib bagi rakyat untuk mendengar dan menaatinya serta memenuhi panggilannya jika mereka dipanggil.” (HR. Sa’id bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mundzir dan Ibnu Jarir Ath-Thabari dengan sanad shahih)

 

Hadits no. 50

Dari Imran bin Abdullah Al-Khuza’i berkata:

كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَحْتَاجُالْحَاجَةَ الشَّدِيدَةَ فَيَأْتِي خَازِنَ بَيْتِ اْلمَالِ فَيَسْتَقْرِضُ الدُّرَيْهِمَاتِ فَيُقْرِضُهُ، فَرُبَّمَا أَخَذَ بِخَنَاقِهِ فِيهَا حَتَّى يَرُدَّهَا، وَرُبَّمَا يُؤَخِّرُ حَتَّى يَخْرُجَ عَطَاؤُهُ أَوْ سَهْمُهُ فَيُعْطِيهِ

“Khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu terkadang mengalami kebutuhan hidup yang sangat mendesa, maka ia mendatangi bendahara Baitul Mal, lalu Umar meminta pinjaman uang beberapa dirham, sehingga bendahara baitul mal meminjaminya. Kadang-kadang Umar harus menyisihkan hartanya yang pas-pasan untuk membayar hutang tersebut dan kadang-kadang Umar menunda sampai tiba jatahnya dari tunjangan baitul mal [al-atha'] atau jatahnya dari harta fa’i, baru ia bisa membayar hutangnya.” (HR. Ibnu Syabah dalam Tarikh Madinah, 2/703, dari jalur Musa bin Ismail dari Salam bin Miskin dari Imran bin Abdullah Al-Khuza’i, dengan sanad shahih)

Hadits no. 51:

Dari Imran bin Abdullah Al-Khuza’i berkata:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ إِذَا احْتَاجَ أَتَى صَاحِبَ بَيْتِ الْمَالِ فَاسْتَقْرَضَهُ، فَرُبَّمَا عَسَرَ فَيَأْتِيهِ صَاحِبُ بَيْتِ الْمَالِ يَتَقَاضَاهُ فَيُلْزِمُهُ فَيَحْتَالُ لَهُ عُمَرُ، وَرُبَّمَا خَرَجَ عَطَاؤُهُ فَقَضَاهُ

“Jika memiliki kebutuhan, terkadang Umar bin Khathab mendatangi bendahara Baitul Mal lalu meminta pinjaman darinya [harta Baitul Mal]. Terkadang Umar bin Khathab mengalami kesulitan keuangan, sehingga bendahara Baitul Mal mendatanginya dan menagih pembayaran hutangnya. Bendahara mengharuskannya membayarkan hutangnya, lalu Umar mengalihkannya kepada orang lain yang memiliki harta untuk melunasinya hutangnya lebih dahulu [gali lubang tutup lubang, red]. Namun terkadang jatah tunjangan dari Baitul Mal (al-atha’) keluar, maka Umar mempergunakannya untuk melunasi hutangnya.” (HR. Ibnu Sa’ad dalam At-Thabaqat Al-Kubra, 3/209 dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqa, 44/345, dengan sanad shahih)

Hadits no. 52:

Dari Aisyah radiyallahu ‘anha:

لَمَّا مَرِضَ أَبُو بَكْرٍ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ قَالَ : اُنْظُرُوا مَا زَادَ فِي مَالِي مُنْذُ دَخَلْتُ فِي اْلخِلاَفَةِ فَابْعَثُوا بِهِ إِلَى الْخَلِيفَةِ مِنْ بَعْدِي. فَإِنِّي قَدْ كُنْتُ أَسْتَحِلُّهُ ، وَقَدْ كُنْتُ أَصَبْتُ مِنَ الْوَدَكِ نَحْوًا مِمَّا كُنْتُ أَصَبْتُ مِنَ التِّجَارَةِ.

قَالَتْ عَائِشَةُ: فَلَمَّا مَاتَ نَظَرْنَا فَإِذَا عَبْدٌ نُوبِيّ كَانَ يَحْمِلُ صِبْيَانَهُ ، وَنَاضِحٌ كَانَ يَسْقِي بُسْتَانًا لَهُ ، فَبَعَثْنَا بِهِمَا إِلَى عُمَر.فَأَخْبَرَنِي جَرِيِّي أَنَّ عُمَرَ بَكَى وَ قَالَ : رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى أَبِي بَكْرٍ ، لَقَدْ أَتْعَبَ مَنْ بَعْدَهُ تَعْبًاشَدِيدًا.

“Saat Abu Bakar Ash-Shiddiq mengalami sakit yang membawa kepada kematiannya, ia berkata kepada keluarganya: ‘Lihatlah kekayaan yang melebihi hartaku sendiri sejak aku menjadi khalifah! Serahkanlah ia kepada khalifah setelahku! Sesungguhnya aku telah menghalalkannya. Sungguh aku telah memperoleh harta dari jatah tanah di daerah Wadak dalam jumlah yang kurang lebih sama dengan hasil perdaganganku.’

Aisyah berkata lagi: “Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggal, kami [anggota keluarganya] melihat kelebihan hartanya [dari jumlah harta yang ia miliki sebelum menjadi khalifah]. Ternyata kelebihan hartanya hanyalah seorang budak Naubah yang memiliki beberapa anak kecil dan seorang pelayan yang biasa mengairi kebun Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Maka kami mengirimkan keduanya kepada Umar bin Khathab. Wakilku memberitahukan kepadaku bahwa Umar bin Khathab menangis. Ia berkata: “Semoga Allah merahmati Abu Bakar Ash-Shiddiq, sungguh ia telah membuat khalifah setelahnya akan mengalami kepayahan yang sangat [untuk mampu meniru jejaknya].” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 22619 dan 33582, dan Ibnu Sa’ad dalam At-Thabaqat Al-Kubra, 3/143 dengan sanad shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 4/351 berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan Ibnu Mundzir dengan sanad yang shahih)

Hadits no. 53:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Aisyah:

لَقَدْ كُنْت حَرِيصًا عَلَى أَنْ أُوَفِّرَ مَالَ الْمُسْلِمِينَ ، فَانْظُرُوا مَا عِنْدَنَا فَأَبْلِغُنَّهُ عُمَرَ. فَمَا كَانَ عِنْدَهُ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ ، وَمَا كَانَ إِلَّا خَادِمٌ وَلِقْحَة وَمِحْلَبٌ ” .

فَقَالَ عُمَرُ : يَرْحَمُ اللَّهُ أَبَا بَكْرٍ ، لَقَدْ أَتْعَبَ مَنْ بَعْدَهُ

“Sungguh selama ini aku telah berusaha untuk memenuhi harta [baitul mal] kaum muslimin, maka lihatlah kekayaan yang kita miliki, lalu benar-benar serahkanlah ia [kelebihan harta kita] kepada Umar bin Khathab.” Namun ternyata Abu Bakar Ash-Shidiq tidak memiliki uang meski hanya satu dinar ataupun satu dirham. Kekayaannya hanyalah seorang pelayan, seekor unta yang bisa diperas susunya dan wadah untuk memerah susu unta.”

Maka Umar bin Khathab berkata: “Semoga Allah merahmati Abu Bakar Ash-Shiddiq, sungguh ia telah membuat khalifah setelahnya akan mengalami kepayahan [untuk mampu meniru jejaknya].” (HR. Abu Bakar Ad-Dinawari dalam Al-Mujalasah no. 2393 dan dishahihkan oleh muhaqqiqnya, dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Sa’ad dalam At-Thabaqat Al-Kubra dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 4/351)

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

(muhib al majdi/arrahmah.com)