Penulis Arsip: arrahmah.com

Kehadiran “pasukan baju putih” di perang Suriah

Sosok berjubah putih membawa pria yang tergeletak dengan santai

ISTANBUL (Arrahmah.com) – Ayaturrahman Fi Jihadi Suriah, menjadi kisah yang berkali-kali diceritakan para ulama Suriah kepada Tim Jurnalis Bersatu (JITU) di tengah-tengah Muktamar Ulama Suriah yang digelar di Turki (11-12/4/2014).

Kisah pertama diceritakan pejuang asal Idlib, berhama Hasan. Dia datang ke Muktamar untuk menemani ayahnya, seorang ulama .

Hasan bercerita suatu kali pesawat tentara Suriah mengaung-ngaung di udara untuk menyasar desa-desa kaum Muslimin. Warga dan pejuang yang tidak memiliki persenjataan canggih hanya bisa bertawakal kepada Allah. Mereka berdoa agar bom-bom tersebut tidak melukai mereka.

Akhirnya mereka sepakat untuk bertakbir sekencang-kencangnya saat bom-bom itu dimuntahkan dari udara. Dan ketika bom tersebut jatuh ke tanah, ternyata bom itu urung meledak.

Begitu pula saat bom kedua dilancarkan. Muntahan material dari langit itu menerjang bak bola api yang siap meluluh lantahkan desa.Warga dan pejuang kembali bermunajat kepada Allah seraya bertakbir sekeras-kerasnya. Luar biasa, lagi-lagi bom itu kembali gagal meledak.

Menariknya, hal ini terus berlangsung hingga berkali-kali. Hingga saat bom terakhir ditembakkan, tiba-tiba saja bom itu bisa meledak. “Saat itu para warga dan pejuang tidak bertakbir,” kata Hasan.

Cerita lainnya lahir dari penjelasan Anggota Ikatan Ulama Homs, Syekh Anas Ahmad Suwaid.

Di awal revolusi, beliau dan pejuang pernah bertakbir secara serentak di kota Homs untuk melawan kekuatan rezim. Tiba-tiba saja takbir mereka disambut dengan petir-petir yang menyambar mengarah ke tentara-tentara rezim.

“Banyak sekali telpon yang masuk kepada kami, ‘lihatlah ke langit, lihatlah ke langit’. Subhanalloh, seakan-akan petir bertakbir bersama kita. Inilah salah satu karomah yang saya saksikan sendiri dengan kedua mata saya,” ujarnya.

Kisah lainnya, lanjut ulama muda ini, terjadi pada salah seorang mujahid. Ketika berada dalam kondisi terluka parah, sang mujahid ditahan oleh rezim. Dalam tahanan itu, dia harus menghadapi interogasi dengan sejumlah pertanyaan.

Salah satu pertanyaan dari pihak rezim adalah keheranan mereka terkait sejumlah pasukan berwarna putih yang tak mampu dilumpuhkan tentara Bashar. “Siapakah mereka? Ketika kami tembak, mereka tidak merasakan apa-apa!” tanya tentara rezim.

Sang mujahid lalu menjawab, “Demi Alloh, tidak ada seorang pun dari kami yang memakai baju putih.”

Syekh Anas tersenyum lalu berkata kepada tim JITU, “Mereka adalah para malaikat. Seperti apa yang difirmankan oleh Alloh ta’ala dalam surat Al Anfal ayat 12,” pungkasnya.

Wahai Muhammad ingatlah ketika Tuhanmu membisikkan kepada para malaikat agar para malaikat menanamkan keyakinan kepada kaum mukmin bahwa Aku bersama kalian. Para malaikat juga menanamkan rasa tenteram kepada kaum mukmin dalam perang Badar. Akulah yang akan menanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, maka pancunglah leher kaum kafir di medan perang dan tebaslah jari jemari tangan mereka. (tarjamah tafsiriyah Q.S. Al Anfal,8: 12)

baca juga;
Sosok penyelamat misterius di Suriah, Mujahidin atau Malaikat?

(azm/jitu/arrahmah.com)

Ketua Rabithah Ulama Syam: Warga Indonesia jangan termakan isu Wahabi

Syaikh Prof Dr Usamah Ar Rifai

ISTANBUL (Arrahmah.com) – Ketua Rabithah Ulama Syam, Syaikh Prof Dr Usamah Ar Rifai, meminta warga Indonesia tidak termakan isu yang menyudutkan pihak Wahabi sebagai dalang perang Suriah.

Tudingan seperti ini banyak dihembuskan oleh orang-orang Syiah untuk mengadu domba sesama Muslim.

“Tentu saja (tudingan terhadap Wahabi, red) ini tidak benar. Ini tidak ada dasar kebenarannya sama sekali. Konflik yang sebenarnya terjadi adalah antara rezim penguasa yang zalim, kafir lagi fajir (melampaui batas, red) dengan rakyat Suriah secara umum (kaum Muslimin),” kata Syaikh Usamah Ar Rifai kepada wartawan Indonesia yang tergabung dalam tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Turki, usai konferensi pers Muktamar Ulama Suriah, Senin (14/4).

Meski berpaham Asy’ari, Syaikh Usamah tidak mau terlena dengan isu-isu pertentangan seperti itu. Dia mengatakan di Suriah seluruh elemen Ahlussunah wal Jama’ah bersatu melawan Rezim Basyar.

“Alhamdulillah, seluruh komponen kaum Muslimin, baik dari sufi, salafi dan lain sebagainya dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah bersatu dalam menghadapi rezim kafir ini. Dan majelis pertemuan saat ini (Muktamar Ulama Suriah) merupakan perwakilan dari seluruh ulama, dai, dan para imam dari seluruh Suriah dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah,” pungkas ulama yang sangat disegani di Suriah ini. JITU

(azm/arrahmah.com)

Serangan Bom Tewaskan 71 orang di stasiun bus dekat ibukota Nigeria, Mujahidin Boko Haram difitnah

Ledakan yang begitu kuat turut menghancurkan kendaraan di sekitar lokasi.  (foto : AP)

ABUJA (Arrahmah.com) – Sebuah bom di sebuah stasiun bus yang disetting pada angkutan umum pagi di pinggiran ibukota Nigeria menewaskan 71 orang dan melukai 124 pada Senin (14/4/2014). Presiden menyalahkan serangan tersebut kepada Mujahidin ahli Sunnah Liddawati wal Jihad Nigeria atau yang dikenal dengan Boko Haram.

Ledakan itu mengguncang stasiun Nyanya, selatan Abuja pada pukul 6.45 pagi waktu setempat, meninggalkan potongan-potongan tubuh tersebar di seluruh terminal dan menghancurkan puluhan kendaraan.

Itu satu serangan paling mematikan yang pernah memukul Wilayah Federal Ibu Kota Nigeria, yang mencakup Abuja dan sekitarnya.

Anehnya, para pejabat sebelumnya mengatakan bahwa dua ledakan terpisah terjadi di kompleks itu, tetapi kemudian mengatakan kerusakan mungkin disebabkan oleh hanya satu bom.

Ledakan itu “berasal dari kendaraan” diparkir di dalam stasiun, kata Charles Otegbade, kepala pencarian dan penyelamatan di Badan Manajemen Darurat Nasional ( NEMA ).

Juru bicara polisi nasional Frank Mba menyebutkan korban 71 orang tewas dan 124 luka-luka, dengan korban luka yang dirawat di rumah sakit daerah.

Mengunjungi TKP, Presiden Goodluck Jonathan berjanji bahwa Nigeria akan mengatasi Boko Haram, yang sering dituduh membunuh rakyat di seluruh bagian utara dan pusat negara itu sejak 2009.

“Ledakan meninggalkan lubang sekitar empat kaki (1,2 meter) yang mendalam dan menyebarkan puing-puing di seluruh kompleks,” ujar seorang wartawan AFP dan saksi mata.

“Saya melihat mayat dibawa dalam truk terbuka,” kata saksi Yakubu Mohammed. “Sulit untuk menghitung mereka karena mayat-mayat itu terbakar dan terpotong.”

Saksi kedua, Suleiman Aminu, mengatakan ia percaya ledakan awal berasal dari minibus yang diparkir di dekat kendaraan umum yang lebih besar, dan kemungkinan penumpang yang antri menjadi target.

Padahal, Mujahidin Boko Haram sendiri, selama ini belum pernah menargetkan wilayah sipil dalam serangan mereka. Sejauh ini mereka hanya menargetkan posisi militer juga penjara untuk membebaskan anggota mereka dari tahanan.

Nyanya adalah sebuah pinggiran kota padat penduduk Abuja, penuh dengan pekerja pemerintah dan masyarakat sipil yang tidak mampu membayar sewa tempat tinggal yang mahal di kota.

Untuk menguatkan kampanye pencitraan bahwa Boko Haram sering membunuh warga sipil, rezim Jonathan melansir sebuah tuduhan, “Terminal bus merupakan target yang paling disukai Boko Haram, termasuk pemboman berantai, terkoordinasi di sebuah terminal di kota utara Kano tahun lalu yang menewaskan lebih dari 40 orang.”

Jonathan, diperkirakan akan menghadapi kesulitan dalam pertempuran pemilihan kembali tahun depan, sebab ia menghadapi kecaman intens karena telah memfitnah Boko Haram.

Pemimpin Boko Haram , Abubakar Shekau, yang telah dinyatakan sebagai “teroris” global oleh Amerika Serikat, bersumpah dalam pesan video baru-baru ini untuk memperluas pembebasan tahanan rezim di luar kubu timur lautnya.

Sebaliknya, Jonathan mengatakan bahwa serangan Boko Haram terbaru dan lain-lain seperti itu diperkirakan sebagai “gangguan yang tidak perlu untuk mendorong kita (rezim) mundur.”

Nigeria adalah produsen minyak utama Afrika dan ekonomi terbesar, tetapi lebih dari 80 persen dari 170 juta orang hidup dengan penghasilan kurang dari $2 per hari.

Analis pro-rakyat mengatakan bahwa tindakan Boko Haram merupakan upaya penyelamatan ekonomi Nigeria dari tangan pemerintah yang korup dan bekerjasama dengan para calon investor.

Sementara Jonathan berusaha menutupi pemerintahannya yang tak adil dengan mengatakan, “Pemerintah melakukan segalanya untuk memastikan bahwa kita bergerak ke depan negara kita.” (adibahasan/arrahmah.com)

Serangan drone AS di Pakistan diluncurkan oleh pasukan Angkatan Udara AS

Predator AS

ISLAMABAD (Arrahmah.com) – Unit Angkatan Darat AS yang berbasis di gurun Nevada bertanggung jawab untuk penerbangan drone AS di Pakistan, menurut film dokumenter baru yang akan dirilis hari ini (15/4/2014).

Film tersebut-yang dibuat selama tiga tahun-mengidentifikasi unit yang melakukan serangan drone CIA di wilayah kesukuan Pakistan sebagai Squadron Reconnaissance ke-17, yang beroperasi dari kamp yang aman di sudut pangkalan udara Creech, 45 mil dari Las Vegas di gurun Mojave, seperti dilaporkan Guardian pada Senin (14/4).

Beberapa mantan operator drone telah mengklaim bahwa personil angkatan udara biasa (bukan kontraktor sipil) telah menerbangkan misi predator bersenjata CIA di Pakistan, kampanye brutal selama 10 tahun yang menurut beberapa perkiraan telah menewaskan lebih dari 2.400 orang.

Hina shamsi, direktur Proyek Keamanan Nasional dari Persatuan Kebebasan Sipil Amerika, mengatakan ini menimbulkan pertanyaan legalitas dan pengawasan. “Sebuah kekuatan mematikan di mana CIA dan militer reguler berkolaborasi saat dilaporkan adanya resiko yang membatasi di mana dan kapan kekuatan mematikan digunakan.”

Guardian berupaya mendekati Dewan Keamanan Nasional, CIA dan Pentagon untuk berkomentar, namun NCS dan CIA menolak berkomentar sementara Pentagon tidak menanggapi.

Peran skuadron dan penggunaan personil angkatan udara reguler dalam program pembunuhan CIA, pertama kali muncul selama wawancara dengan dua mantan pasukan khusus operator drone untuk sebuah film dokumenter baru, Drone.

Brandon Bryant, mantan operator predator AS, mengatakan ia memutuskan untuk berbicara setelah para pejabat senior dalam pemerintahan Obama memberikan briefing pada tahun lalu di mana mereka mengatakan bahwa mereka ingin “mentransfer” kontrol program drone CIA ke militer.

Bryant mengatakan ini karena telah dikenal luas di kalangan militer bahwa angkatan udara AS sudah terlibat.

“Ada kebohongan tersembunyi di dalam kebenaran. Dan kebohongan adalah bahwa angkatan udara yang telah menerbangkan misi tersebut. CIA mungkin menjadi customer tetapi angkatan udara yang selalu menerbangkan itu. Label CIA adalah hanya alasan untuk tidak menyerahkan informasi apapun.”

Mengacu pada Skuadron ke-17, mantan operator drone lain, Michael Haas menambahkan : “Ini cukup dikenal luas bahwa CIA mengontrol misi mereka.”

Enam mantan operator drone lain yang bekerja bersama di unit dan memiliki pengetahuan luas tentang program pesawat tak berawak, menguatkan klaim. Tak satu pun dari mereka siap untuk memberikan catatan karena sensitivitas isu tersebut.

Bryant mengatakan pengawasan publik dari program ini telah difokuskan pada CIA bukan militer dan sudah waktunya untuk mengakui peran mereka yang telah melaksanakan misi atas nama badan analisis sipil.

Shamsi mengatakan, jika pengungkapan ini benar, sejumlah pertanyaan tentang kerangka hukum di mana program pembunuhan bertarget dilakukan dan dasar kerahasiaan terus diberlakukan.

Dia menambahkan : “Ini akan mengejutkan bagi kebanyakan orang Amerika jika CIA mengarahkan militer untuk melakukan kegiatan suka berperang. Badan ini harusnya mengumpulkan dan menganalisis intelijen asing, tidak memimpin aparat untuk melakukan pembunuhan besar-besaran.” (haninmazaya/arrahmah.com)

Mujahidin IIA berhasil membersihkan provinsi Saripul dari musuh

AR-sar-epol-map

AFGHANISTAN (Arrahmah.com) – Laporan dari distrik Kohistanat provinsi Saripul utara menyatakan bahwa Mujahidin Imarah Islam Afganistan (IIA), atau yang lebih dikenal dengan sebutan Taliban, telah membersihkan wilayah luas Saripul utara dari keberadaan musuh pada Senin (14/4/2014).

Mujahidin melancarkan operasi pembersihan ini dengan bantuan penduduk setempat bersenjata yang bergabung dengan Mujahidin 2 hari sebelumnya di wilayah Tagab Bai, lansir Voice of Jihad.

Hasil operasi ini berhasil membebaskan wilayah Deh Miena yang merupakan rumah dari sekitar 3000 penduduk setempat dan terdiri 4 desa yaitu Deh Miena Ulya, Deh Meina Sofla, Deh Surkhak, Nawabad dan Gandeha.

Selain itu, sejumlah polisi bayaran setempat yang menentang Mujahidin juga akhirnya menyerah. (banan/arrahmah.com)

Krisis ulama diatasi dengan kaderisasi sejak dini

Acara “Tabligh Akbar dan Kajian Buku Balita dan Lansiapun Bisa Hafal Al-Quran” di aula Masjid Agung An-Nuur Pekanbaru, Riau, Ahad (13/04/2014).

PEKANBARU (Arrahmah.com) – Salah satu krisis yang dihadapi umat Islam saat ini adalah minimnya ulama. Demikian disampaikan penulis buku “Balitapun Hafal Al-Quran” Salafuddin Abu Sayyid.

“Krisis yang dialami oleh umat Islam adalah minimnya ulama. Kalau soal jumlah umat Islam saya pikir kita bisa bangga, tapi bicara kualitas nanti dulu, kita harus koreksi,” ujarnya, tulis Hidayatullah.com.

Salafuddin mengingatkan agar umat Islam mengantisipasi keadaan ini dengan melakukan “kaderisasi ulama” sejak dini.

“Krisis ini yang harus kita antisipasi, dengan ‘kaderisasi ulama sejak dini, ” ujarnya saat berbicara di hadapan ratusan peserta “Tabligh Akbar dan Kajian Buku Balita dan Lansiapun Bisa Hafal Al-Quran” di aula Masjid Agung An-Nuur Pekanbaru, Riau, Ahad (13/04/2014).

Menurutnya upaya kaderisasi ulama adalah upaya untuk menjaga agama.

Selanjutnya, kata pria yang pernah menghabiskan waktu bersama keluarga penghafal Al-Quran di Gaza ini, menghafal Al-Quran dan mempelajari bahasa Arab adalah dua kunci utama untuk menjaga agama ini.

“Dua kunci penjagaan agama ini, Al-Quran dan bahasa Arab.”

Dirinya mencontohkan Imam Syafi’i sejak kecil dididik ibunya untuk menghafal Al-Quran dan belajar bahasa Arab. Sehingga saat usia 7 tahun Imam Syafi’i sudah menghafal Al-Quran. Pada usia 9 tahun Imam Syafi’I sudah hafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik yang isinya lebih dari 18.000 hadits, ujarnya mencontohkan.

Sementara itu, ulama Riau yang juga pakar tafsir Al-Quran, ustadz Dr. Musthafa Umar, Lc. MA menjelaskan bahwa setiap umat Islam pada hakikatnya dimudahkan Allah untuk menghafal Al-Quran.

“Balita lemah, tapi bisa hafal Quran. Lansia lemah, bisa hafal Quran. Kita ini di antara balita dan lansia, punya kekuatan, maka lebih mudah untuk menghafal Quran,” terang pembina Tafaqquh Study Club ini.

Dicontohkan oleh Dr. Musthafa, banyak anak-anak di Gaza, Palestina mampu menghafal Al-Quran dalam waktu singkat. “Anak-anak kita di Palestina sana, dalam masa 2 bulan bisa hafal Al-Quran 30 juz. Dan ini merupakan isyarat bahwasanya pembukaan (pembebasan) Palestina itu semakin dekat.”

“Dengan Al-Quran, Rasulullah dan para sahabat dahulu gagah perkasa, musuh dapat dikalahkan. Dan dengan Al-Quran pula pada hari ini kita akan gagah perkasa dan musuh akan dikalahkan,” kata ustadz Musthafa.

(azm/arrahmah.com)

“Israel” menutup Masjid Ibrahimi untuk Muslim di hari Paskah

ibrahimi-mosque

TEPI BARAT (Arrahmah.com) -Pemerintah “Israel” telah memerintahkan penutupan Masjid Ibrahimi di kota Al-Khalil Tepi Barat bagi ummat Islam pada Rabu (16/4/2014) dan Kamis (17/4) selama hari libur Paskah Yahudi yang dimulai Senin (14/4), kata seorang pejabat Palestina.

“”Israel” telah memberitahukan kepada kami tentang penutupan Masjid Ibrahimi pada Rabu pagi hingga Kamis malam,” Tayseer Abu Sneineh, direktur waqaf keagamaan di Al-Khalil, mengatakan kepada Anadolu Agency.

“Lokasi ini tertutup untuk jamaah Muslim selama liburan Yahudi, sementara tetap terbuka untuk orang-orang Yahudi dengan dalih memberikan perlindungan kepada pemukim [Yahudi] dan memungkinkan mereka untuk melakukan ritual Talmud mereka,” tambahnya.

Kompleks Masjid Ibrahimi Al-Khalil diyakini untuk menandai lokasi pemakaman para nabi Abrahim, Ishaq dan Ya’qub.

Setelah pembantaian 29 jamaah Palestina tahun 1994 di dalam masjid tersebut oleh ekstremis pemukim Yahudi Baruch Goldstein, pemerintah “Israel” membuat jamaah Muslim dan jamaah Yahudi terpisah.

Al-Khalil adalah rumah bagi sekitar 160.000 Muslim Palestina dan sekitar 500 pemukim Yahudi. Pemukim Yahudi tinggal di sejumlah wilayah Yahudi yang dijaga ketat oleh pasukan “Israel”.

(ameera/arrahmah.com)

Aswan tenang, Ikhwanul Muslimim membantah menghasut permusuhan

egypt-court

KAIRO (Arrahmah.com) – Pada Ahad (13/4/2014), Aswan, sebuah kota di selatan Mesir, sudah mulai tenang saat gencatan senjata yang dikonsolidasikan oleh imam Al-Azhar Ahmed al-Tayeb yang tampaknya terus berlangsung. Pekan lalu, pertempuran antar suku yang berlangsung selama tiga hari di Aswan telah menyebabkan 26 orang tewas.

Pada Sabtu (12/4), Al-Tayeb bertemu secara terpisah dengan kepala suku dari Daboudia dan Hilaliya yang setuju untuk memperpanjang gencatan senjata yang dicapai pekan lalu untuk membuka pintu rekonsiliasi.

Selama konferensi pers, al-Tayeb mengatakan bahwa kedua suku tersebut telah menyetujui pembentukan sebuah komite dari Al-Azhar untuk mencari jalan keluar untuk memperbaiki hubungan antar kedua suku tersebut, dan menentukan kompensasi terhadap orang-orang menjadi korban dari kedua belah pihak.

Sementara itu, Ikhwanul Muslimin “menjaga jarak” dengan seorang pria yang dituduh oleh pengadilan sebagai orang yang “menghasut” kekerasan di Aswan.

Dalam sebuah pernyataan, Ikhwanul Muslimin mengatakan bahwa Negm al-Din Ibrahim, seorang guru, bukan anggota kelompok tersebut.

“Pasukan keamanan berusaha menjebak Ikhwanul Muslimin setelah gagal menjaga keamanan dan melindungi nyawa rakyat yang tak berdosa,” katanya menambahkan.

Jaksa telah memasukkan Ibrahim ke dalam tahanan selama empat hari atas tuduhan melakukan penghasutan untuk pembunuhan dan keterlibatan dalam kerusuhan dan pembakaran.

Setelah pecahnya kekerasan pada 4 April, juru bicara militer Ahmad Ali mengatakan bahwa ada “indikasi” keterlibatan anggota Ikhwanul Muslimin.

Desember lalu, Mesir telah menetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi “teroris” menyusul serangan pada markas besar keamanan Delta Nil di mana 16 orang, sebagian besar polisi, tewas.

Ikhwanul Muslimim membantah telah terlibat dalam serangan itu dan menegaskan kembali bahwa aktivisme damai merupakan komitmen dasar kelompok tersebut.

(ameera/arrahmah.com)

Mujahidin menguasai sepenuhnya dataran tinggi Ahmar barat yang berhadapan dengan dataran tinggi Golan

soda2

QUNAITIRAH (Arrahmah.com) – Mujahidin Islam akhirnya berhasil Tal Ahmar barat atau dataran tinggi Ahmar barat di wilayah pinggiran Qunaitirah dari tangan pasukan rezim Nushairiyah Suriah dan milisi Syiah Hizbu Syaithan Lebanon pada Selasa (8/4/2014). Kesuksesan mujahidin merebut dataran tinggi yang sangat strategis tersebut merupakan pukulan telak bagi rezim Nushairiyah dan milisi Syiah.

Pertempuran sengit mengepung dan membebaskan bukit Ahmar barat memakan waktu selama beberapa pekan. Beberapa kelompok jihad ambil bagian dalam operasi gabungan tersebut. Diantaranya adalah Jabhah Islamiyah, Jabhah Nushrah, Harakah Al-Mutsanna Al-Islamiyah, Jama’ah Baitil Maqdis Al-Islamiyah dan beberapa kelompok jihad lokal lainnya.

Kelompok-kelompok mujahidin tersebut tergabung dalam operasi gabungan “Peperangan Shada [gaung] Al-Anfal”. Operasi gabungan “Peperangan Shada [gaung] Al-Anfal” sendiri merupakan wujud dukungan mujahidin di propinsi Qunaitirah kepada operasi gabungan mujahidin “Peperangan Al-Anfal” di propinsi Lattakia.

Stasiun Al-Aan TV pada hari hari Sabtu (12/4/2014) mengirimkan wartawannya untuk meliput langsung situasi dataran tinggi Ahmar barat, pinggiran Qunaitirah setelah sepenuhnya berada dalam kontrol mujahidin Islam.

“Kami melaksanakan operasi yang penuh berkah ini untuk meringankan penderitaan penduduk kami [minoritas kaum muslimin] di pesisir [propinsi Lattakia],” kata seorang komandan Jaisyul Islam, salah satu unsur dalam Jabhah Islamiyah, kepada wartawan Al-Aan TV.

Di sepanjang puncak dataran tinggi Ahmar barat terdapat posko-posko pertahanan pasukan rezim Nushairiyah Suriah. Selain itu juga terdapat parit pertahanan yang memanjang dan bivak-bivak tempat tinggal pasukan rezim selama mereka berjaga dan bertempur di dataran tinggi tersebut. Sejumlah tank, truk militer, meriam, senjata berat dan amunisi beragam jenis berhasil dirampas mujahidin dari pasukan Nushairiyah Suriah dan milisi Syiah di dataran tinggi Ahmar barat.

Dari puncak dataran tinggi Ahmar barat, nampak pemandangan indah lembah dan desa-desa di bawah dataran tinggi Ahmar barat. Wilayah pertanian nampak sangat luas dan hijau, dengan irigasi yang sangat baik. Wilayah tersebut sangat subur.

Kesuksesan mujahidin mengontrol sepenuhnya dataran tinggi Ahmar barat, pinggiran Qunaitirah menjadi ancaman tersendiri bagi penjajah zionis “Israel”. Maklum, dataran tinggi Ahmar barat berseberangan langsung dengan dataran tinggi Jaulan [Golan] yang telah dicaplok oleh negara zionis tersebut sejak 1967. Ada kemungkinan hal itu memicu pertempuran antara pasukan penjajah zionis “Yahudi” dan mujahidin Islam.

“Saat ini, segala puji bagi Allah, mujahidin sedang dalam upaya untuk membebaskan dataran tinggi Ahmar timur. Dengan izin Allah, kami memberikan kabar gembira kepada penduduk Syam bahwa kami akan datang. Dataran tinggi ini merupakan perbatasan yang menghubungkan dengan dataran tinggi Golan yang terjajah. Ia memiliki urgensi yang sangat besar bagi negara-negara dan juga untuk membebaskan seluruh wilayah pinggiran Qunaitirah,” kata Abu Firas, salah seorang komandan lapangan mujahidin Harakah Ahrar Asy-Syam Al-Islamiyah kepada Al-Aan TV.

Selama ini pasukan rezim Nushairiyah Suriah di dataran tinggi Ahmar barat senantiasa membombardir penduduk sipil muslim di desa-desa dan kota-kota pinggiran Qunaitirah dengan rudal dan meriam Hawan. Namun kini dataran tinggi strategis dan pertahanan militer yang sangat kokoh tersebut sepenuhnya berada dalam kekuasaan mujahidin.

(muhib al majdi/arrahmah.com)

Bashar Asad bunuh separuh penduduk Suriah demi langgeng kekuasaannya

Syekh Anas Suwaid-(kiri) sedang-diwawancarai wartawan disela-sela-muktamar ulama Suriah di Turki.

ISTANBUL (Arrahmah.com) – Saat para ulama Suriah menasehati rezim Bashar Asad, terlihat bahwa rezim tidak mempedulikan nasib rakyatnya yang sebagian besar adalah kaum Muslimin.

Rezim Bashar bahkan menginginkan pemusnahan kaum Muslimin, sementara orang-orang Nushairiyah tetap hidup. Bahkan mereka telah menyatakan dengan satu suara bahwa tidak mengapa apabila jumlah penduduk Suriah yang 20 juta harus dimusnahkan setengahnya demi kelanggengan rezim ini. Benar-terkutuk lagi laknatullah rezim ini.

Para ulama Suriah berkumpul di Turki untuk merintis Dewan Syariah Independen. Kehadiran lembaga ini akan menjadi rujukan bagi rakyat Suriah yang sudah lama dijauhkan dari ulama.

Ulama Muda Homs, Syaikh Anas Ahmad Suwaid menyebut selama ini ulama mendapatkan tekanan untuk berdakwah dan mengeluarkan fatwa. Lahirnya Dewan yang berisikan ulama-ulama berpengaruh Suriah ini diharapkan dapat menyatukan fatwa-fatwa yang ada . Ini menjadi tonggak dalam menegakkan Daulah yang berlandaskan Syariat Islam.

Wartawan Indonesia yang tergabung dalam Tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) berkesempatan untuk mewawancarai Syaikh Anas di tengah jeda Muktamar Suriah yang digelar di Turki, Jumat-Sabtu (11-12 April 2014). Dengan ramah dan penuh perhatian, Ulama yang pernah langsung menyampaikan nasihat kepada Bashar Asad ini memberikan jawaban atas pertanyaan yang disodorkan. Bagaimana kondisi Suriah terakhir? Bagamimana peranan ulama? Dan apa nasihatnya bagi kaum Muslimin di Indoneisia?

Berikut petikan wawancara Tim JITU:

Bisa Anda jelaskan kondisi yang terjadi di Suriah?

Selama kurang lebih 40 tahun rakyat Suriah berada dalam kondisi tertindas dan tertekan oleh rezim berkuasa. Kebebasan dan keadilan terenggut dari mereka. Tidak ada seorangpun yang berani berkata kebenaran melainkan pasti akan ditindas.

Lebih dari itu, shalat pun dilarang dalam pendidikan militer selama dua tahun. Mereka mengatakan bahwa di Suriah ini tidak ada Allah, astaghfirullah…! Telah nampak bahwa ini adalah kekufuran yang jelas (kufrun bawwah).

Tidak ada selama perjalanan sejarah di Suriah, penguasa yang menghina Kalimat Tauhid kecuali rezim yang berkuasa saat ini. Mereka dengan berani mengganti kalimat tauhid la ilaaha illallah menjadi “laa ilaaha illaa Basyar”.

Sekian lama rakyat sabar dengan kekejaman dan tingkah laku yang melampaui batas dari penguasa. Hingga akhirnya mereka pun bangkit untuk membela kehormatan Islam, keadilan, kemerdekaan dan hak-hak kemanusiaan mereka.

Pada mulanya, mereka hanya melawan secara sendiri-sendiri. Mereka adalah anak-anak Suriah yang mencoba untuk membela ibunya, ayahnya, saudarinya dan syiar-syiar agamanya. Terlebih lagi ketika melihat masjid-masjid dihancurkan dan mushaf Al-Qur’an dibakar, maka semangat juang mereka semakin tumbuh. Dan terus berlanjut hingga mereka membentuk kelompok-kelompok jihad fii sabilillah.

Apa perasaan kaum Muslimin di Suriah dengan masuknya aliansi Syiah?

Kondisi di Suriah semakin parah sejak masuknya intervensi dari kelompok Syiah dari Iran, “Hizbullah”, Kelompok Moqtada Al Shadr dari Irak dan Syiah Houthi dari Yaman.

Sekte-sekte sesat ini berdatangan secara berhamburan seperti air terjun yang mengalir deras.

Mereka datang untuk menyembelih anak-anak, membunuhi orang-orang kami dan segala bentuk permusuhan lain yang mereka tampakkan dalam krisis ini. Namun anehnya tidak ada satu pun suara di dunia ini yang mengatakan hal itu adalah tindakan terorisme.

Komandan tinggi pertahanan udara, Jamal Hasan pernah mengatakan, sebelum terjadinya pengeboman dengan bom kimia, biarkan saja kami akan memusnahkan bakteri-bakteri itu. Tentu saja yang dimaksud adalah kaum Muslimin. Inilah pemikiran yang menguasai Suriah saat ini. Sebenarnya yang terjadi jauh lebih meyakitkan daripada apa yang Anda lihat di media.

Sejauh ini, apa saja kemajuan yang didapatkan Mujahidin?

Alhamdulillah saat ini semua urusan Mujahidin hakikatnya di tangan Allah Ta’ala. Dengan karunia Allah, tidaklah berhenti peperangan di suatu tempat melainkan Allah memberikan kemenangan di tempat lain. Alhamdulillah akhir-akhir ini, kami mendapatkan kemenangan-kemenangan.

Saat ini pertempuran sedang diarahkan ke kawasan pinggiran Suriah di sebelah barat, tempat markas rezim. Dan ini menjadi pertempuran yang menentukan.

Apa yang sudah dilakukan Ulama untuk menyatukan kekuatan kaum Muslimin di Suriah?

Semenjak berlangsungnya revolusi selama 3 tahun, kami dari awal sampai sekarang ini bersama perjuangan rakyat Suriah.

Adapun langkah-langkah yang ditempuh oleh para ulama saat ini dengan menyelenggarakan majelis ulama seperti saat ini. Dengan tujuan untuk mempersatukan suara umat, dan fatwa para ulama Suriah terkait dengan perjuangan rakyat Suriah serta bimbingan untuk mereka.

Apa yang dikatakan pihak rezim Bashar ketika Anda dan para ulama menasihati?

Setelah memberikan nasihat kepada Bashar, kami kembali bertemu dalam pertemuan khusus yang hanya dihadiri sedikit orang. Terlihat bahwa rezim tidak mempedulikan nasib rakyatnya yang sebagian besar adalah kaum Muslimin.

Mereka menginginkan pemusnahan kaum Muslimin dan orang-orang Nushairiyah tetap hidup. Bahkan mereka telah menyatakan dengan satu suara bahwa tidak mengapa apabila jumlah penduduk Suriah yang 20 juta harus dimusnahkan setengahnya demi kelanggengan rezim ini.

Apa nasihat dan arahan Anda bagi kaum Muslimin di Indonesia?

Tidak ada yang diharapkan dari rakyat Suriah, melainkan hanya kepedulian dan doa dari negeri-negeri Muslim. Hendaklah mereka mendoakan saudara mereka di Suriah dan kemudian bantuan materi serta dukungan tenaga. (JITU)

(azm/arrahmah.com)