Penulis Arsip: Bengkulu Ekspres

Dewan Panggil Walikota

BENGKULU, BE – Anggota Komisi III DPRD Kota Bengkulu, Miharsii SPd, merasa gerah dengan lambannya penyelesaian sengketa lahan SDN 62 Kota Bengkulu. Sebagai anggota komisi yang membidani masalah pendidikan, ia menyatakan akan mendesak institusinya untuk memanggil Walikota H Helmi Hasan SE untuk mempertanggungjawabkan persoalan ini.
“Hari ini (kemarin, red) kami akan mengadakan rapat. Saya mendesak agar walikota dipanggil supaya sengketa ini cepat dituntaskan. Senin (6/10), semua pihak yang terkait akan kami undang,” katanya dalam kunjungan kerja yang ia lakukan ke SDN 62 Kota Bengkulu, kemarin.
Minharsii menilai Pemerintah Kota seharusnya dapat mencarikan solusi agar para siswa yang sekolah di SDN tersebut tidak selalu terganggu dengan konflik antara pemerintah dengan para ahli waris. Ia mengajak pihak eksekutif untuk mengabaikan proses hukum sementara waktu dan berkonsentrasi penuh mencarikan solusi agar para siswa dapat kembali belajar.
“Urus dulu anak-anak ini. Jangan sampai mereka tidak belajar. Masalah hukum abaikan dulu. Sekarang kan tahun ajaran baru, kasihan orangtuanya. Jangan sampai anak-anak yang dirugikan. Carikan mereka sekolah alternatif dulu entah dengan pinjam pakai gedung, atau dititipkan ke sekolah lain terserah, yang jelas harus ada solusi segera,” ungkapnya.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Minharsii memberikan dukungan moral kepada Kepala Sekolah. Ia berharap agar pihak sekolah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kejiwaan anak-anak seiring dengan meningkatnya intensitas konflik lahan atas rumah sekolah tersebut.
“Kami minta pihak rumah sekolah dapat bersabar dalam menghadapi konflik ini. Berikan perhatian yang lebih kepada anak-anak agar mereka tidak trauma dengan kejadian-kejadian yang ada,” tukasnya.
Sementara Walikota Bengkulu H Helmi Hasan SE melalui Kabag Humas Setda Kota Dr H Salahuddin Yahya MSi, mengatakan, tanggung jawab sekolah anak-anak bukan hanya pada Pemerintah Kota. Menurutnya, para pihak yang mengaku sebagai ahli waris juga memiliki tanggung jawab sosial tersebut.
“Dalam memandang kasus ini ada 2 hal, pertama sebab, kedua akibat. Sebabnya adalah status lahan yang sedang berada dalam ranah hukum. Akibatnya adalah anak-anak tidak bisa sekolah. Kami dari Pemerintah Kota terus berupaya untuk menuntaskan sebab ini. Tapi mengenai akibatnya, itu jelas bukan tanggung jawab Pemerintah Kota semata, melainkan tanggungjawab ahli waris juga. Jangan karena kita sama-sama berkonsentrasi dengan sebab, kita lantas membiarkan anak-anak terbengkalai sekolahnya,” ujarnya.
Salahuddin menambahkan, hari Senin (6/10) Pemerintah Kota melalui Jaksa Pengacara Negara (JPN) akan mendaftarkan gugatan perdata secara resmi kepada pihak pengadilan.  Menurutnya, semua perkara telah diselesaikan sesuai dengan mekanisme yang ada.
“JPN masih terus bekerja keras untuk melengkapi berkas-berkas laporan sebelum disampaikan kepada pihak pengadilan. UNtuk proses pidana juga sudah kita sampaikan juga kepada Polres Bengkulu. Tidak ada yang stagnan. Upaya penyelesaian kasus ini bagi kami sudah on the track,” tegasnya. (009)

Konflik SDN 62 Meruncing, Wali Murid vs Ahli Waris, Ricuh

RIO-POL PP DAN WALI MURID SDN 62 MENJAGA PROSES KBM PASCA SEGEL DIBUKA (2)
BENGKULU, BE – Konflik SDN 62 Kota Bengkulu kembali meruncing.  Pagi kemarin (3/10), pukul 07.15 WIB, sekitar 50 orang wali murid sekolah yang terletak di Sawah Lebar tersebut datang dan membongkar seng yang menyegel sekolah.  Belum seluruh pagar seng terbuka, Fisahri, sang ahli waris, datang dan menghalangi aksi para wali murid tersebut. Namun ia sudah tak dapat lagi membendung para siswa dan guru yang telah masuk ke halaman sekolah tersebut.
Sempat terjadi adu mulut antara Fisahri dengan para wali murid. Anak angkat Atiyah tersebut meminta kepada wali murid untuk tidak melanjutkan pembongkaran segel dan menghargai haknya sebagai ahli waris. Ia menuding para wali murid SDN 62 Kota Bengkulu telah ditunggangi oleh kepentingan Pemerintah Kota.
“Tolong hargai perasaan kami sebagai ahli waris. Kalian harusnya mendatangi walikota dan meminta menyelesaikan masalah ini. Tanah ini merupakan hak kami, tidak boleh ditempati begitu saja. Kami punya legalitasnya yang kami urus cukup lama,” katanya ditengah keributan.
Para wari murid spontan membantah bila mereka digerakkan oleh pemerintah. Mereka menjawab bahwa upaya mereka tersebut murni agar anak-anak mereka bisa sekolah. Mereka membongkar pagar seng yang menyegel sekolah itu justru karena menilai pemerintah berdiam diri terhadap anak-anak mereka yang sekolah diluar.
“Ahli waris yang seharusnya menghargai perasaan kami. Ini kan sudah puluhan tahun, kenapa baru sekarang disengketakan. Kami tidak membela siapa-siapa, tidak ahli waris, tidak juga pemerintah,” teriak Helda, warga Sawah Lebar, salah satu wali murid.
Puluhan personil Kepolisian Resort (Polres) Bengkulu dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bengkulu hanya berjaga-jaga di sekitar lokasi kejadian. Kepala Satpol PP Kota Bengkulu, Jahin Liha Bustami SSos, mengatakan, penyiagaan 1 pleton anggotanya turun ke lokasi bukan atas dasar perintah Pemerintah Kota. Ia mengaku hadir bersama anggotanya berdasarkan pada permintaan wali murid dan pihak sekolah.
“Kami hanya berjaga-jaga agar tidak ada ketertiban umum yang terganggu di kawasan ini. Ini bukan instruksi walikota, ini permintaan wali murid dan rumah sekolah. Kami akan selalu menyiagakan personil kami agar kawasan ini tetap kondusif,” ujarnya.

Tuding Ada Provokator
Sementara itu, kuasa hukum para pihak yang mengaku sebagai ahli waris, Yuliswan SH MH, mengatakan, pihaknya akan melayangkan laporan kepada polisi terkait pembongkaran segel tersebut.  Menurutnya, pengrusakan tersebut dapat dijerat dengan Pasal 406 ayat 1 sebagaimana yang termaktub dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
“Kami yakin ada pengomporan dari pihak lain. Kami akan membuat laporan ke Polda Bengkulu mengenai pengrusakan ini. Kami tahu provokatornya ada 5 sampai 6 orang dari wali murid,” katanya.
Bila kepolisian tidak mengindahkan laporan tersebut, lanjutnya, pihaknya akan membuat aduan ke Mabes Polri di Jakarta. Ia meyakini tindakan pengrusakan tersebut merupakan tindak pidana yang dapat menjebloskan pelakunya selama 5 tahun dipenjara.
“Kami harapkan Polda bisa menindaklanjuti ini. Ini murni pidana. Hari ini (kemarin, red) segera kami laporkan. Kalau tidak kami akan laporkan masalah ini ke Mabes Polri seturut dengan laporan kami atas sikap Kajari Bengkulu ke Jamwas Kejagung RI (Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan Kejaksaan Agung Republik Indonesia) karena masalah sengketa ini,” ungkapnya.
Ia berharap Pemerintah Kota dapat segera menyelesaikan persoalan ini dengan membentuk tim khusus penyelesaian lahan SDN 62 Kota Bengkulu. Sebab, menurut Yuliswan, persoalan ini sudah menyangkut keresahan masyarakat umum di Kota Bengkulu.
“Kami merasakan penanganan ini lamban sekali. Kami ingin masalah ini cepat selesai. Kami minta pemerintah membuat tim khusus. Karena ini menyangkut keresahan masyarakat. Kasihan banyak masyarakat yang dikorbankan,” tukasnya.
Menjawab ancaman tersebut, Niharman (47), salah satu wali murid yang ikut dalam pembongkaran, mengatakan, wali murid tidak takut terhadap ancaman laporan ke Polda Bengkulu tersebut. Ia menegaskan, ia hanya menginginkan agar anaknya dapat kembali sekolah.
“Bagaimana pun caranya kami hanya ingin anak kami kembali sekolah. Silahkan mau laporkan ke Polda kami tidak takut. Kami tidak banyak membongkar, sedikit saja asal anak kami bisa masuk. Apapun resikonya kami siap,” ucap warga Sawah Lebar ini.
Sementara Kepala SDN 62 Kota Bengkulu, Tutik Sunarsih SPd, enggan berkomentar banyak mengenai persoalan ini. Ia mengaku selalu siap dengan apapun keadaan yang terjadi. Bila rumah sekolah dalam keadaan terkunci, maka ia bersama guru dan wali murid akan mengantisipasi dengan belajar di luar sekolah. Namun bila tidak, mereka mengantisipasinya dengan belajar diluar sekolah.
Salah satu siswa SDN 6 Kota Bengkulu, Linda, mengaku senang bisa kembali belajar di dalam sekolah. Meski tidak pernah mengetahui sengketa yang terjadi terkaitnya sekolahnya itu, namun ia merasa tidak bisa mendapatkan pelajaran dengan baik bila dilaksanakan diluar sekolah.
“Kalau diluar panas. Nggak bisa belajar. Di dalam sekolah enak, dingin. Bisa duduk di kursi,” tutur siswa kelas 5 A ini dengan polos. (009)

Jaga Toleransi Perbedaan Idul Adha

BENGKULU, BE – Penetapan hari raya Idul Adha oleh  pemerintah tidak dipatuhi seluruh ummat Islam di Indonesia.  Ormas Muhammadiyah, bahkan sudah terlebih dahulu menetapkan Idul Adha jatuh pada hari Sabtu (4/10).  Sedangkan pemerintah, melalui sidang Isbat, memutuskan pelaksanaan hari raya Idul Adha 1435 H jatuh pada hari Minggu, tanggal 5 Oktober 2014.   Akibatnya terjadi perbedaan di masyarakat.  Bahkan sejak pelaksanaan puasa Arafah (9 Dzulhijjah), dimana sebagian sudah melaksanakannya kemarin.
Meski terjadi perbedaan, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu, H Suardi Abbas, SH MH melalui Kabid Haji dan Umroh, Drs H Zahdi Taher MHi, mengimbau agar masyarakat jangan terpecah.
Zahdi meminta agar warga mengambil hikmah dalam perbedaan perayaan hari Idul Adha tahun ini.  Dia mengimbau kepada masyarakat supaya perbedaan ini tidak menciptakan pengkotak-kotakan, dan mengimbau melaksanakan puasa Arafah dan salat Idul Adha  sesuai dengan keyakinannya.
”Saya mengimbau kepada seluruh umat untuk tetap memegang teguh ukhuwah Islamiah, toleransi beragama, dan tetap saling menghormati keyakinan dalam perbedaan Idul Adha, sehingga kekhusyukan ibadah pada bulan Dzulhijjah tetap terjaga.  Yang tidak kalah pentingnya adalah masyarakat harus mengambil hikmah di balik perayaan Idul Adha seperti pelaksanaan haji dan peristiwa yang telah dilalui Nabi Ibrahim bersama anaknya Nabi Ismail tentang berkurban,” tandasnya. (247)

Keuangan Dewan Bermasalah

BENGKULU, BE – Kondisi keuangan Sekretariat DPRD Kota Bengkulu syarat dengan permasalahan.  Permasalahan-permasalahan tersebut menimbulkan banyak keluhan dari para mantan anggota dewan dan pihak ketiga yang selama ini membantu kinerja dewan.
Mantan anggota DPRD Kota Bengkulu, Wehelmi Ade Tarigan SH, merupakan salah satu orang yang pernah merasakan dampak buruk dari buruknya pengelolaan tersebut.  Sejumlah kegiatan yang ia lakukan atas nama DPRD Kota Bengkulu dahulu terpaksa ia danai sendiri dengan komitmen akan diganti oleh pihak Sekretariat. Faktanya, ia harus menunggu selama berbulan-bulan sebelum akhirnya uang tersebut diganti.
“Mereka seharusnya mengganti sejak bulan Juni 2014. Tapi mereka mencairkannya baru Senin kemarin (29/9),” katanya.
Senada diungkapkan mantan anggota DPRD Kota Bengkulu lainnya, Sofyan Hardi SE. Ia menjelaskan, memang terdapat anomali dalam pengelolaan keuangan di sekretariat tempat ia bekerja dahulu itu. Ia sendiri masih menyimpan piutang asuransi yang belum dibayarkan hingga saat ini.
“Anggaran memang banyak yang dicairkan dibelakangan hari. Misalnya ada kegiatan yang dilaksanakan bulan ini, tapi baru dianggarkan jauh setelah kegiatan dilaksanakan. Pola penganggaran seperti ini yang membuat banyak kinerja dewan menjadi tidak efektif,” ungkapnya.
Dikonfirmasi, Sekretaris Dewan (Sekwan) Kota Bengkulu, H Marjon MPd, tidak menampik hal tersebut. Saat ini, ia berkomitmen untuk lebih baik. Ia telah memberikan instruksi kepada jajarannya agar tidak lagi berutang dalam menjalankan kegiatan.
“Sekarang semua kegiatan kami didasarkan kepada perencanaan. Kalau misal ada dewan yang ingin melakukan perjalanan dinas yang bersifat penting dan mendesak, kami akan mengimbau agar seminggu sebelumnya sudah disampaikan kepada pihak sekretariat. Sehingga kami bisa menyiapkan administrasi terlebih dahulu sebelum kegiatan berlangsung,” ungkapnya.
Untuk menghindari seluruh praktik penyelewengan anggaran, Marjon bersikap aktif melakukan konsultasi dengan lembaga-lembaga resmi negara yang mengawasi pengelolaan keuangan dan kebijakan seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Disamping itu, Marjon juga senantiasa menagih bukti-bukti otentik dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan. “Semua terbuka untuk diperiksa dan dipertanggungjawabkan,” ujar mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bengkulu ini. (009)

Dekat Mapolda, Perawat Dijambret

BENGKULU, BE - Di dekat Mapolda Bengkulu perawat RS Rafflesia, Yesi Hariani Fransisca (27), menjadi korban jambret. Warga Jalan DP Negara IV RT 22 Kelurahan Pagar Dewa Kecamatan Selebar ini dijambret saat melintas di depan Makam Pahlawan Jalan Adam Malik Kota Bengkulu tak jauh dari Mapolda Bengkulu.
Dalam laporannya di Polda Bengkulu, korban kehilangan satu buah dompet warna coklat yang berisikan uang tunai Rp 900 ribu serta surat-surat berharga lainya, sehingga korban mengaku mengalami kerugian mencapai Rp 1,2 juta.
Diketahui, aksi kejahatan tersebut dialami korban hari Rabu (1/10) sekitar pukul 20.35 WIB. Berawal saat korban pulang kerja, dengan menggunakan sepeda motor. Saat melintas di TKP (Tempat Kejadian Perkara) secara tiba-tiba korban dipepet pelaku, kemudian langsung menarik dompet korban.
Kabid Humas Polda Bengkulu, AKBP Joko Suprayitno SST MK didampingi Kasubdit Penmas, Kompol Mulyadi memebenarkan telah menerima laporan korban penjambretan tersebut. “Laporan sudah kita terimah dan akan ditindak lanjuti sebagaimana mestinya,” tegas Joko.
Dengan maraknya aksi penjambretan tersebut, Joko menghimbau masyarakat penggendara terutama kaum perumpuan untuk menghindari kawasan-kawasan yang dianggap rawan aksi kejahatan serta mengusahakan untuk tidak pulang sendiri bila malam hari. “Kita ingatkan untuk tidak menggunakan tas sandang yang gampang ditarik pelaku kejahatan. Ataupun dompet yang hanya diletakan di bok depan kendaraan,” tuturnya. (320)

Pemuda Teluk Sepang Ditujah

Korban Tujah
BENGKULU, BE – Dio Naldo (24), warga Kelurahan Teluk Sepang, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu, harus dilarikan ke IGD RSUD M Yunus karena ditujah orang tidak dikenal (OTD). Ayah kandung korban, Marzuji (40), mengungkapkan, anaknya dihadang tiga orang pelaku dengan mengendarai dua sepeda motor. Secara tiba-tiba salah seorang pelaku mengeluarkan senjata tajam jenis pisau dan menusukannya ke pinggang korban.
“Kejadiannya di jalanm dari Bumi Ayu tembus ke Sukarami (Jalan Pancur Mas). Pelaku tiga orang,” ungka Marzuji.
Diketahui, korban melintas di TKP (tempat kejadian perkara) bersama dengan dua orang rekannya, Fami serta Windi, dengan tujuan ke Bandara Fatmawati. Namun, saat melintas di Jalan Bumi Ayu, korban diikuti pelaku dari belakang. Setibanya di TKP, pelaku langsung menghentikan laju kendaraan korban. “Kalau keterangan rekannya tadi demikian,” katanya.
Anggota keluarga korban mencurigai para pelaku tersebut ingin merampas sepeda motor yang dikendarai korban. Karena saat dihentikan, korban tidak melepaskan sepeda motor tersebut sehingga ditujah oleh pelaku. Namun setelah melihat kondisi korban yang terkapar dan mengeluarkan banyak darah, para pelaku langsung kabur meninggalkan lokasi. “Tidak lain pelaku ini ingin menodong (merampok), mungkin ada warga sekitar yang melihat, sehingga langsung kabur,” ucap Marzuji.
Korban sendiri dirawat intensif di IGD RSUD M Yunus, untuk menghentikan aliran darah dipinggi kirinya setelah menerima tusukan sentaja tajam dari pelaku.(320)

Belago, Mahasiswa Diamankan

tsk penganiayaan mahasiswa
BENGKULU, BE – FA (20), warga Rawa Makmur, Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu, terpaksa diamankan di ruang tahanan Polres Bengkulu. Mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Kota Bengkulu tersebut dibekuk atas dugaan pemukulan terhadap Roni Okaria (20), yang merupakan teman kampusnya. FA ditangkap tim buser Sat Reskrim Polres Bengkulu saat sedang tertidur di rumahnya, Jumat (2/10) malam, dan tanpa ada perlawanan.
Kapolres Bengkulu, AKBP Iksantyo Bagus Pramono SH MH, melalui Kasat Reskrim AKP Amsaludin SSos, membenarkan telah mengamankan pelaku. “Pelaku sudah kita amankan dan akan kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut,” singkatnya.
Dari data yang berhasil dihimpun, peristiwa tersebut terjadi di depan SPBU Rawa Makmur, sekira pukul 01.00 WIB, Minggu (21/9). Terjadi perkelahian antara pelaku dan korban yang mengakibatkan korban mengalami babak belur dan melapor ke Polres Bengkulu.
Sementara itu, pelaku saat ditemui, ia menampik telah melakukan pemukulan terhadap korban hingga korban babak belur. Bahkan pada saat itu, pelaku mengaku dikeroyok oleh korban bersama 2 orang keluarganya. “Saat itu saya yang dikeroyok 3 orang,” elaknya.
Lebih lanjut dijelaskannya, perkelahian tersebut berawal karena ia tersinggung atas perlakuan korban yang selalu meremehkannya.
“Saya sakit hati karena saya selalu diperintahnya, saya tidak terima selalu disuruh-suruh, makanya saya ajak ketemuan untuk berkelahi. Saat kami sedang berkelahi satu lawan satu, tiba-tiba 2 orang temannya langsung datang dan seketika menyerang saya. Saya kabur dan sempat dikejar mereka, untung saya bisa melarikan diri,” katanya.(135)

Siswi SD Dicabuli

BENGKULU, BE - Malang menimpa Mawar (9), nama disamarkan, warga Kebun Beler, Ratu Agung, Kota Bengkulu. Siswi di salah satu sekolah dasar (SD) di Kota Bengkulu tersebut dicabuli oleh Fr (15), seorang tuna karya yang tinggal di Jalan Flamboyan, Kebun Kenanga, Ratu Agung, Kota Bengkulu. Mengetahui kejadian tersebut, SN (39), ibu korban melapor ke Polres Bengkulu.
Kapolres Bengkulu, AKBP Iksantyo Bagus Pramono SH MH, melalui Kabag Ops, AKP Ruri Roberto SH SIK MT MH, membenarkan telah menerima laporan korban dan akan segera menanganinya.
Dalam laporannya, SN menjelaskan, peristiwa tersebut terungkap ketika ia dipanggil oleh pihak sekolah. Saat ditemui, kepala sekolah menceritakan peristiwa malang yang dialami korban. Saat itu, korban pulang dari sekolahnya dan hendak bermain ke rumah Fi (12), teman korban. Saat melintas di depan rumah pelaku, pelaku langsung datang dan memeluk korban dari belakang dan selanjutnya meraba-raba tubuh korban. Akibat kejadian tersebut, korban hingga saat ini masih trauma dan tak mau masuk ke sekolah.(135)

Tukang Parkir Diringkus

tukang parkirtsk gadaikan bpkb
BENGKULU, BE – IS (30), warga Jalan Bawal, Kelurahan Malabero, Teluk Segara Kota Bengkulu yang berprofesi sebagai tukang parkir di depan mini market Khatulistiwa Jalan KAZ Abidin, menggadaikan BPKB mobil milik Linimun Tiari, yang merupakan karyawan di Khatulistiwa. Atas perbuatannya, ia akhirnya diringkus tim Sat Resekrim Polres Bengkulu, Jumat (2/10) malam.
Dari data yang berhasil dihimpun, perbuatan tersebut terjadi pada tahun 2012 lalu. Saat itu, tanpa sepengetahuan korban, pelaku mengambil BPKB mobil korban dan menggadaikannya di salah satu leasing di Kota Bengkulu, senilai Rp 13 juta.
Saat ditemui, pelaku membantah telah mencuri BPKB mobil korban. Salain itu, dijelaskan pelaku, ia menggadaikan BPKB tersebut karena terdesak untuk biaya pengobatan istrinya.
“BPKB itu sengaja dititipkan kepada saya. Saya terpaksa menggadaikan BPKB itu karena untuk biaya operasi istri yang hendak melahirkan,” jelasnya.
Kapolres Bengkulu, AKBP Iksantyo Bagus Pramono SH MH, melalui Kast Reskrim AKP Amsaludin SSos, membenarkan telah mengamakan pelaku. “Kita sudah mengamankan pelaku dan akan kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujar mantan Kapolsek Talang Empat, ditemui BE, kemarin.(135)

Pelaku Penipuan Bertransaksi di Jawa

BENGKULU, BE - Kasus dugaan penipuan dengan mencatut nama Kapolda Bengkulu Brigjend Pol Tatang Soemantri MH mendapat perhatian serius Polda Bengkulu. Sehingga, Kapolda Bengkulu memerintahkan Subdit Jatanras dibawa kendali AKBP Richard Maith SIK untuk mengusut tuntas perkara tersebut.
Richard menjelaskan, dari hasil pengusutan sementara yang dilakukan anggotanya, diketahui para pelaku penipuan tersebut menetap di Pulau jawa. “Semua transaksinya tercatat di kawasan Pulau Jawa, kita masih melakukan penelusuran identitas dan keberadaan para pelaku,” tegas Richard.
Menurut Richard, untuk melacak kebaradaan para pelaku yang berhasil menguras Rp 100 juta uang korban tersebut, Polda Bengkulu telah berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya. “Berkerjasama dengan Polda Metro Jaya, kita masih melacak keberadaan pelaku,” terangnya.
Pelaku kejahatan dengan mencatut nama Kapolda Bengkulu itu diyakini merupakan sindikat, sebab para pelaku yang menelpon korban berada di daerah berbeda. Sehingga Polda Bengkulu mengingatkan kepada seluruh masyarakat Provinsi Bengkulu untuk lebih waspada dan teliti serta tidak mudah mentransfer sejumlah uang kepada orang yang tidak dikenal serta diketahui keberadaannya. “Itulah yang harus dilakukan masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh dengan mengirim sejumlah uang, apalagi kalau orang tersebut tidak kita kenal,” ungkapnya
Sebelumnya, dengan mencatut nama Kapolda Bengkulu, pelaku kejahatan berhasil menggasak uang senilai Rp 100 juta. Hal ini terungkap pasca Harum Chandra (73), yang tinggal di Jalan Kaswari RT 22 Kelurahan Sembilan Timur, Kecamatan Ilir Timur, Sumatera Selatan, yang mendatangi Mapolda Bengkulu, Rabu (1/10).  (320)